White Lie


Assalamualaikum..


Kejujuran..

Walo sakit, tapi hal itu harus kita lakukan..

But, sometimes we have to do "white lie" to survive..


White lie???

Yup, suatu istilah yang digunakan untuk suatu kebohongan yang berguna sebagai pelindung, penjaga, penghindar bagi orang maupu kelompok dalam suatu masalah dan ga bersifat merugikan orang lain.

Hanya untuk melindungi dalam kebaikan, menjaga kestabilan dan menjaga agar tidak terjadi hal buruk.


Gue ada kisah untuk menjelaskan hal itu.


ANGGER DAN IBUNYA


Saat itu dan di tempat itu.

"Ya udah, kalo memang emang bunda tidak berkenan untuk Angger merantau".

"Angger tau kan kenapa bunda begitu. Angger pasti paham alasan bunda belum bisa melepas Angger untuk merantau, kondisi, Ngger... Itu yang bunda takut. Bukan bunda belum percaya, tapi memang bunda belum rela melepas anak bunda ini. Mungkin bunda akan rela melepasmu merantau setelah kamu benar benar siap nak", jelas Bunda Fatimah dengan bijaksana.

Angger, pemuda kampung yang kerap bermasalah dengan daya tahan tubuh.

Pemuda ini keukeuh untuk merantau, sesuai dengan tradisi daerahnya, pemuda seusianya merantau untuk belajar dan mencari pengalaman hidup.

Merantau itu suatu jalan hidup yang dia impikan, bukan semata untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk ibunya, untuk adiknya, untuk keluarganya.

Dia ingin mengangkat strata sosial keluarganya di mata masyarakat.


1 hari lalu.

"Tapi nak, bunda rasa kamu belum kuat untuk menghadapi kerasnya kehidupan di luar sana. Ingatlah nak, kamu harapan bunda, tapi bukan begini caranya", bunda berusaha menjelaskan pemikirannya. Tak dapat ditahan lagi, air mata itu menetes sejak dialog itu dengan anaknya itu dimulai.

"Angger bukan anak kecil lagi bunda, angger bisa dan Angger mampu. Angger sudah siap menghadapi jalan itu. Dan ini pembuktian juga bagi Angger kalo bunda sudah membuat Angger sekuat ini", idiologi, egoisme, semangat juang dan kekerasan kepala yang tersirat dari ucapan Angger itu merupakan dampak dari impian dan rencana hidupnya belum mendapan ijin dari Sang Bunda.

"Pokoknya Angger tetep mau merantau, kalo cuman gini aja Angger masih bisa nahan kok. Ini bukan apa apa kalo dibandingkan dengan impian Angger", berani ato terlalu bodoh jawaban Angger ini.

"Nak, kalo tetap ingin pergi, bunda akan mengikhlaskan kepergianmu merantau. Tapi bunda tidak yakin akan kuat bertahan saat mendengar kabar Angger sakit di sana. Bunda akan selalu memikirkan Angger setiap saat. Bunda akan mengkesampingkan semuanya, hanya berdoa pada Alloh untuk keselamatan Angger" isak sendu masih terus membahana di ruangan itu.

"Ah, bunda. Apa kata teman teman Angger nanti, angger bakal diblang penakut, pengecut, anak rumahan, ga mau maju dan berkembang. Angger bakal jadi pesakitan saja kalo misal tetap tidak merantau. Angger malu, bunda....." gengsi antar sesama yang membuatnya keukeuh pergi merantau.


Di rumah Paman

Angger bertemu pamannya untuk meminta tolong agar pamannya bicara pada ibunda Angger yang tidak lain adalah kakak dari pamannya itu supaya Angger diijinkan untuk merantau.

"Tolonglah paman, hanya paman yang bisa membantu" mohonnya pada sang paman.

"Lho, itukan mau kamu, ya harus kamu lah yang memperjuangkannya. Sesuatu yang kita perjuangkan itu hasilnya lebih manis" tolak halus dari sang paman.

"Sudah paman, tapi bunda tetap belum mengijinkanku pergi. Bunda masih bersikukuh tentang alasan itu" tak kenal menyerah Angger ini.

"Alasan? Maksud kamu?" ada sesuatu yang membuat sang paman penasaran.

“Kata ibu, aku belum siap untuk pergi merantau, aku masih belum sehat betul untuk pergi. Padahal itu impianku dan aku siap untuk itu” jelas Angger.

“Ngger, paman rasa bunda ga melarang kamu, bunda hanya berharap kamu berangkat saat kamu benar benar sudah siap. Jadi untuk saat ini turutilah kata ibundamu. Pendam dulu keinginanmu. Lakukan demi ibumu.”jelas sang paman.

Mendengar alasan itu Annger sedikit meluluh, diapun bertanya “Berarti aku harus bohong pada diriku ya paman?”.

“Hahahaha.... Itu namanya bukan bohong, tapi ga mengungkapkan yang sebenarnya di hati kamu. Tapi, kan kamu benar benar sayang bunda mu itu, jadi kamu ga berbohong.” penjelasan dari sang paman nampaknya cukup mengena di hati Angger.

Angger pun pulang edngan penuh kesadaran tentang maksud ibundanya itu...


Saat ini, di ruangan yang sama.

"Iya, Angger sadar. Tanpa merantau pun sebenarnya Angger juga bisa menjadi "orang" bagi keluarga ini kok, bunda. Angger juga tau, kalo merantau dengan kondisi seperti ini hanya akan menyulitkan Angger untuk fokus pada tujuan merantau itu. Angger bakal disibukkan oleh kegiatan menjaga dan menyembuhkan badan ini ketimbang bekerja memenuhi target itu", jawabnya dengan lemah lembut dan berusaha berfilosofi.

"Itulah nak yang bunda pikirkan. Bunda senang dan bangga karena kamu punya impian mulia yang tinggi itu. Tapi bunda lebih bahagia lagi jika tau kamu itu sehat, tidak merasa sakit dan ceria seperti sediakala, nak" jawab bunda dengan tangis haru bahagia.

"Angger percaya dengan saran bunda dan Angger akan melakukan sesuai petuah bunda. Karena Angger yakin, dengan pengalaman hidup bunda yang sebegitu banyak, bunda lebih paham tentang seluk beluk kehidupan. Berbeda dari Angger yang belum menempuh jarak sejauh itu dalam hidup ini. Pastilah keputusan Angger belum matang dan belum mempunyai banyak dasar, berbeda dengan nasihat bunda yang penuh dengan dasar", jawabnya dengan bijaksana. Kebijaksanaan yang dia tau, akan membendung impiannya. Tapi apapun dia lakukan untuk ibundanya. Karena dia sayang pada sang bunda.

"Bunda bangga sekali, Angger sudah dewasa sekarang ini", kembali meluncur dan menitik, air mata haru itu dari mata sang bunda.

Beliau bangga karena sang anak telah mengerti bagaimana cara orang dewasa berpikir dan mengambil tindakan. Penuh perhitungan dan pemikiran, bukan dengan emosi dan berkesan gegabah. Sungguh ternyata sang anak telah bertransformasi menjadi laki laki dewasa.

Yang ada di pikiran Angger ini adalah berusaha membuat ibundanya tenang. Membuat ibundanya bahagia dan membuat ibunya bangga. Apa dia sudah mengubur impiannya untuk merantau? Tidak, impian itu masih terus bersemayam di jiwanya, dan ia yakin suatu hari dia bisa merantau dengan ijin dari ibunya. Ijin Alloh adalah ijin orang tua.

Ibundanya berkata "saat ini Angger belum kuat untuk merantau".

Kata kata itu menjadi dasar Angger untuk tetap merantau kelak, setelah dia siap.

Untuk saat ini Angger akan berbohong pada dirinya sendiri dan tetap membendung hasrat merantaunya untuk sang bunda.


TAMAT



Nah, adakah yang bisa kita petik dari cerita di atas?

Buanyak sekali..

Apa aja coba??

Silahkan dicermati sendiri sendiri ya...

Mari sama sama belajar dari cerita itu..

Btw, itu cerita masih fresh..

Buatan gue, mama ama Sun...

Belum pernah dipublish dimanapun dan oleh siapapun..


Ok, thanks for reading my blog...

Have a nice day..

and...


Bye, Chuiiikkkkkk............


Wassalamualaikum...

Newer Post Older Post

6 Responses to “White Lie”

chicie said...

Bertanya-tanya: ni bukannya cerita ttg dirimu ndiri sy?

Rossy Erda said...

host to chitut...

Oiyyy....
Takecy-girl...
Horas... (drinking)
punya blog pula ya kau orang itu...
tak pernah cakap kalo punya di plurk... (idiot)
Tau aja si chit ini...
Ya begitulah chit... (blush)
masih bermasalah ama kondisi badan...
salam buat mithut ya...
keep reading my blog okay...
thanks...
Salam plurkers... (cozy)

chicie said...

Haha blog kuh ini mah masih lum layak dishare, biz isinya curcol tak jelas mua, skrg mci setia menjadi the reader dulu aja, salam plukers...

Rossy Erda said...

host to chitut

Lah...
Sama aja, blog ku isinya juga curcol kok..
Pede aja..
Toh kita juga pede kalo curhat ato nge-tret norak di plurk..
Asal ga alay sih gapapa chit...
Hayuk sama sama belajar nulis..
aku lagi belajar nih...

chicie said...

Yupie.. Mari belajar menulis..

indah said...

I dun consider it as white lie...
Anyway...why do you have to feel like you're lying to your mom?
It ain't lie...you just suspend your will & your dream now, so that you'll reach it somehow ^_^
It's for the sake of your mom & yourself oso