The Greatest Family

Assalamualaikum....

Keluarga...

Keluarga dapat kita ibaratkan dari komunitas terkecil dari kehidupan biosfer Habluminannas.
Keluarga merupakan suatu sistem yang saling terikat.
Suatu sistem yang biasanya terdiri dari Ayah, Ibu dan anak..
Ayah sebagai kepala keluarga, tempat keputusan diambil setelah melalui musyawarah keluarga.
Ibu sebagai penyeimbang dan pengurus keluarga, selayaknya sebagai seseorang yang bertanggung jawab terhadap isi rumah.
Anak adalah anggota keluarga yang berhak untuk mendapat pengajaran dan wajib meneruskan nama baik keluarga.

Ada pepatah, "Like Father, like Sons".
Do you believe it ???
Can you receive it ???

Yeah...
Aku percaya akan pepatah itu...
Hal itu dijelaskan *diceritakan* di Surat Al-Lukman...
Diceritakan bahwa dalam keluarga harus terbentuk sistem yang jelas, saling berkaitan dan saling mendukung.
Ayah sudah semestinya menjadi "imam" yang membimbing dan mengajak jalan kebaikan yang otomatis menjauhi api neraka..
Ibu berperan sebagai asisten sang ayah.
Anak dengan penuh tanggung jawab harus belajar tentang hal itu..

Sesuai Keluarga Lukman..
Pak Lukman *aku sebut begini supaya lebih nyaman* mendidik anaknya dengan memberi contoh..
Beliau mengajarkan shalat sejak anaknya massih kecil.
Mulai menanamkan akidah Islam di hati anak anaknya.
Pak Lukman mengajarkan betapa pentingnya shalat berjamaah di masjid bagi laki laki..
Beliau selalu mengajak anaknya shalat berjamaah di masjid bersama dirinya juga.
Mengajari dengan memberi contoh, sungguh panutan yang bijaksana.
Saat sang anak sedikit mendayung menjauh dari "jalan" Allah, Pak Lukman segera menariknya kembali.
Menari kembali sembari memberi nasihat dan penjelasan tentang apa yang anak itu lakukan, dan akibat yang akan terjadi jika sang anak terus mendayung.

Mengapa tampak mudah mengajari dan mendidik anak seperti keluarga Pak Lukman??
Sekali diberitahu, sang anak langsung menurut dan tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Kuncinya penanaman sejak dini..
Sejak lahir telah diperdengarkan kalimat kalimat Allah..
Akidah tentang Iman Islam dan Taqwa juga disampaikan sejak kecil.
Dengan begitu, pondasi Islami telah merasuk di dalam jiwanya..
Terpatri dengan tebal dan terukir dengan jelas.
Watak pun bisa dibuat dengan landasan itu.

Saat anak masih polos dan murni, itulah saat yang tepat untuk memberinya "pondasi".
Bagi yang memiliki pengetahuan tentang bangunan, pasti tau fungsi dari pondasi.
Pondasi merupakan dasar dari bangunan.
Kokoh dan kuatnya bangunan bergantung pada pondasinya..
Kita dapat menganalogikan hal itu pada diri manusia *seorang anak*.

Di era sekarang ini, akhlak dan kedisiplinan kurang diperhatikan dalam metode pembelajaran pada anak.
Berdasarkan pengamatan yang saya ketahui di lingkungan tempat saya bermukim, kebanyakan adalah orang tua yang sibuk bekerja.
Berangkat pagi dan pulang malam.
Semua itu memang untuk keluarga.
Semua itu, tapi semua itu bukan hanya harta hasil bekerja.

Sejak pagi, anak sudah ditinggal dan dipercayakan pada pembantu.
Interaksi anak lebih sering dengan pembantu ketimbang dengan orang tuanya sendiri.
Kasih sayang yang didapatkan sang anak sebagian besar didapat dari pembantu, bukan orang yang telah melahirkan dan menafkahinya.

Dampak dari kebiasaan seperti itu antara lain, sang anak bisa saja merasa kurang diperhatikan oleh orang tua, sehingga dia mengambil langkah yang dia *mungkin* tau kalo itu keliru, untuk mendapatkan perhatian & kepedulian dari orang tua.

Banyak hal yang akan bermunculan setelahnya, mengenai pengertian akan ”benar dan salah“. Ini sebuah prinsip yang sebaiknya seorang anak tau lebih dini. Kadang walaupun sang anak tau itu salah. Akan tetapi, entah dorongan rasa “penasaran” dan “lingkungan” yang juga membuatnya tetap bisa terjerumus. Banyaknya jenis pergaulan dan suara-suara di lingkungan sekitar pun turut menggoda. Hingga akhirnya sang anak pun meraba-raba mencari kenyamanan. Dimana ia sendiri pun tidak tau nyaman itu yang bagaimana. Dan ia pun hanya bisa mencoba-coba di dalam pencariannya.

Sebuah Pelarian.
Pelarian lah yang akan dicari oleh sang anak saat jauh dari orang tua yang seharusnya memperhatikan perkembangannya.
Bukan seorang pembantu.
Ia bingung, saat ingin bertanya tentang hidup.
Selama ini dia diasuh oleh pembantu, dan tidak mungkin dia menggantungkan hidupnya pada pembantu.*bukan diskriminasi terhadap pembantu, maaf*
Lantas, dipun memilih untuk mencari tau sendiri.
Tanpa bimbingan orang tua.
Tanpa pengawasan dan arahan orang tua.
Bisa dia memilih beberapa "tempat berlabuh" untuk jiwa galaunya yang haus akan kasih sayang.
Entah dengan teman bergaulnya, yang dia rasa lebih mengerti tentang kebutuhan dan masalah yang sedang dia hadapi.
Bisa dia memilih dengan pacar.
Pacar sebagai tempat mencurahkan dan mendapat kasih sayang..
Yang dia rasa dan dia pikir dapat membantu meredam dan mengurangi rasa resahnya..
Di mana hal ini justru menjadi salah, ketika semua menjadi terlarut di dalamnya dan sulit untuk melepaskan diri...

Kasih sayang yang sebenarnya adalah tugas orang tua.
Bahkan ada juga yang berpaling ke obat-obatan dan minuman keras sebagai pelariannya.
Hanya demi pencarian dasar hidup dan kasih sayang, yang membuatnya dapat terjerumus ke dalam sesuatu yang sebenarnya bukan jalan yang ia cari..

Sungguh pondasi Iman dan Taqwa yang kurang mumpuni dari sang orang tua.
Sehingga prinsip agama, sosial dan norma norma lain tidak dia perdalam dan terapkan dalam mengarungi hidup.
Hanya berbekal dan bermodal rasa penasaran dan haus kasih sayang lah dia mengayuh roda kehidupan.

Siapa yang salah pada fenomena itu??
Entah siapa yang salah.
Kita tidak bisa menyalahkan orang tua begitu saja.
Secara, mereka bekerja untuk keluarga dan demi tuntutan hidup di zaman sekarang ini.
Mereka sudah benar dalam menjalankan tugas mereka sebagai orang tua yang memang wajib memenuhi kebutuhan buah hatinya.
Tapi, tentang bekal hidup, mereka salah kaprah.
Masukan positif kurang diperhatikan. Padahal masukan-masukan dari orangtua menjadi sangat penting di dalam perkembangan anak. Baik itu yang akan membangun motivasi dari dalam dirinya, yang akan selalu membangun dan semakin menguatkan kepekaannya akan berbagai hal yang ada di lingkungan sekitar.
Mereka hanya berpedoman pada materi, sekedar peduli bagaimana dunia studynya, dan hal yang mendasar untuk survive anaknya, dirasa sudah cukup dalam mendidik dan membentuk pondasi seorang anak.

Actualy, those are not the main needed for him or her.
Yang penting adalah pembentukan pondasi "mental" yang berdasar pada akidah yang kuat serta kasih sayang yang tulus dan tanpa batas.
Karena dengan hal itu lah seorang anak akan terbentuk pribadinya dan memiliki suatu prinsip yang kuat yang dapat ia pegang di sepanjang perjalanan dan langkah-langkah hidup yang akan ia arungi.
Karena dengan mental, pribadi dan *yang terpenting* landasan agama yang kokohlah, seorang anak dapat dipercaya untuk melejit dan merajai hidupnya.*di jalan Alloh tentunya*

Nah, sekarang kita ulas dari segi anak.
Aku mengulas diri sendiri ceritanya nih...
Secara aku masih berstatus sebagai seorang anak.
Hm...
Di sisi ini, aku mau nulis dengan gaya yang agak santai..
Masalahnya ini yang baca dari pihak anak juga..
Biar yang baca tau gimana sih rasanya galau..

Ok, go on.
Honestly, aku tidak menghadapi situasi yang parah macam itu..
Ada sih kegalauan.
Tapi kasih sayang yang mereka beri sudah tepat, cuma akunya saja yang belum bisa merealisasikan dan menerapkan ilmu yang aku dapat.

Anak yang galau karena kurangnya kasih sayang pasti akan berusaha mencari jawaban dan limpahan kasih sayang..
Sesuai dengan perkembangan psikologisnya, dimana seorang anak sedang gencar mencari jati diri...

Nah, meski begitu, bukan serta merta sang anak bisa membabi buta dalam memilih jalan.
Membabi buta, memilih tanpa mengindahkan aturan dan norma yang berlaku.
Meski tidak mendapat petuah yang memadahi dari orang tua, tapi sang anak harusnya juga sudah mengerti tentang mana yang patut dia lakukan dan mana yang harus jauh jauh dia tinggalkan.
Secara, di sekolah formal kita juga mendapat pelajaran Agama dan Kewarganegaraan yang sudah mengatur norma norma yang ada..
Jika kita *aku yang juga seorang anak* masih melenceng, itu karena kesalahan kita yang mengatasnamakan kurangnya kasih sayang dari orang tua.

At least, kita tau kalo narkoba dan miras itu ga boleh disentuh, apalagi dipakai.
Kalo nekat sih, itu bebal...
Lha itu dia yang harus kita sebagai anak menganalisa.
Kenapa kita bisa senekat itu.
Mencoba hal hal yang sudah jelas dilarang.


Ok, enough for the explanations

Kembali ke Keluarga Lukman..
Dalam keluarga yang harmonis dan selalu dibawah naungan akidah, output *dalam hal ini sang anak* pasti jadi anak yang baik jika pondasi telah dibuat sekokoh mungkin sejak dini..
Selain Keluarga Lukman, ada juga contoh keluarga yang lain..
Keluarga Ali Imran, Keluarga Ibrahim dan masih banyak lagi...

Semoga wacana tulisan *ceker ayam* ini bisa menjadi sesuatu yang berguna bagi kita..
Semoga curhatan ini bisa bermanfaat bagi kita semua..

Sekian dulu untuk hari ini..
Hopely we'll meet soon..
Lets share opinions with me...
This blog is Open and Free to leave Comments here...
Just Push Icon on the top right of this posting...

Bye, Chuik............

Wassalamualaikum....

Newer Post Older Post

2 Responses to “The Greatest Family”

BrenciA KerenS said...

wew...abot tenan pembahasanmu... 2 thumbs up wae ya...

Rossy Erda said...

kagem budhe..
matur nuwun..
niku dalem nulis pas wonten masalah teng keluarga..
radi berat niku..
tapi tetep semua masalah selalu ada pembahasannya di AlQuran..