Cerpen

Cinta Tak Sempurna

"Ku arungi samodra demi bertemu denganmu, Yana.."
"Ya ya, aku tau, Jakarta Seattle bukanlah jarak yang dekat, tapi
tetap, ini kesalahan"

"Kesalahan? Ini kesempurnaan. Ini perjuangan cintaku yang suci, cinta
yang selalu membara. Cinta yang sempurna."
"Sempurna katamu? Hahahaha.. Ada ada saja.."

"Cinta ku ini telah meretas perbedaan diantara kita, dan memadukan
kesamaan. Yana, tak sadarkah kau bahwa aku ini ada karena kau telah
tercipta?"

"Wow.. Sungguh dalam kata kata mu. Rayuan gombal."
"Ini bukan rayuan, ini suara hati, lantunan perasaanku padamu, Yana.."

"Stop, cut it out!! I'm sick of you.. Enyah lah, jangan datang lagi.
Pergi kau dari rumahku.."
Dan Mulyana pun membanting pintu, meninggalkan Anton mematung di
depannya, ditemani udara dingin Seattle di musim salju.

Sesaat Mulyana berjalan meninggalkan ruang tamu, seorang wanita yang
menggendong bayi berkata "what was that, honey?"
"Ah, just a mother fucker that I knew, asked for stupid thing. Forget
it, honey.."

Di depan pintu, Anton bertanya dalam hati, "Apa yang membuat cintaku
tak sempurna?"

Itu Karyaku

"Mengapa anda mengijinkan suami anda berpoligami?"
"Hm, ladang pahala"

"Lantas, mengapa anda tiba tiba berbuat seperti itu?"
"Tanyakan pada suami saya"

"Ha? Baiklah, apa tindakan anda itu terencana atau spontanitas saja?"
"Sepertinya, spontanitas"

"Tolong ceritakan peristiwanya secara detil?"
"Tanyakan pada suami saya, dia juga berada di sana?"
"Maksud anda? Tolong, bekerja sama lah dengan kami. Saya ulangi,
ceritakan secara detail peristiwa itu"

"Hey polisi, apa anda tuli? Tanyakan saja pada suami saya, dia berada
di samping si musang jahanam itu, dia tau kejadiannya!!"

"Saya ingatkan pada anda, seseorang telah membunuh pasangan suami
istri, menusuknya sebanyak 23 kali dengan kondisi kedua korban terikat
di ranjang, dan siapa pelakunya ha?!"

"Hahahaha.. Hebat bukan, tak kusangka aku bisa mengikat mereka sekuat itu"

Bangsa Batik

Di sebuah pesta..


Si Sexy : selamat ulang tahun ya, semoga kedepannya makin sukses, makin go public..
Si Kusam : oh iya, makasih, amin..
Si Glamor : coba deh di kedepannya ganti mode, warna gelap kan ga asik diliat.
Si Formal : iya, gimana bisa dilirik kalo ga berusaha mempercantik diri.
Si Sexy : nih liat aku, ketika aku jalan, pasti banyak yang memperhatikanku.
Si Kusam : *memandang penampilan sahabatnya itu, namun hanya terdiam dan bergumam dalam hati* 'iya juga ya, mata pasti tertuju ke dia'.
Si Formal : tak ada urusan bisnis yang gagal kalo kamu berpenampilan seperti ini..
Si Kusam : hahaha.. *dia tertawa, tertawa dalam pedih*
Si Glamor : ketika kamu berada di lingkungan orang orang berdompet tebal, aku jamin tak ada yang mengabaikanmu jika saja kau memakai style ku.
Si Kusam : jadi aku ini kelihatan kuno ya?
Si Formal : coba aja nilai diri kamu sendiri di depan kaca.

Si Kusan tertunduk lesu setelah mendengar opini dari kawan kawannya.
Selesai acara, dia segera menuju kamarnya, berdiri mematung, mengamati dengan seksama sebuah bentuk, mengamatinya dari atas sampai bawah, dia memperhatikan detil dirinya yang terpampang di cermin.
Di lubuk hati dia berujar 'iya, aku nampak kusam, delap, kuno dan itu semua membuatku kurang menarik'.
Tak sadar, air mata tertetes, membayangkan dirinya tak lagi dianggap, karena penampilannya.

Dalam ketermenungan, dia tak menyadari kehadiran ibunya yang kini telah berdiri tepat di sampingnya.
Melihat anaknya menangis sang ibu bertanya “Ada apa? Kenapa ada air mata?”
Terperanjat, sejenak dia yang sedang menyelam dalam pilu kembali terhempas ke dunia nyata.
“Ah, tidak, bu, hanya sedang berpikir saja.”
“Ada yang mengganggu pikiranmu nak?”
“Bu, apa kita ini memang terlihat kuno? Tidak dilirik oleh orang lain? Tidak pantas menjadi pusat perhatian?”
“Ha? Apa maksudmu nak? Ibu belum paham. Coba ceritakan pada ibu masalahmu.”
Ragu ragu, Si Kusam ragu ragu, apakah dia harus menceritakan masalahnya ke sang ibu.
“Hm.. Begini bu, aku..” kata katanya terhenti, terjerat di mulut.
“Iya?”
“Aku malu bu..”
“Malu?
“Malu bu, malu pada penampilanku. Teman teman bilang aku tidak menarik, aku gelap, aku kuno.”
“Gelap? Kuno? Hahaha.. Ada ada saja kamu ini nak. Kenapa kamu berpikir demikian?”
“Karena memang tak ada yang memperhatikanku bu, kata kata mereka benar, aku tak digubris, aku dikesampingkan.”
“Dikesampingkan?”
“Iya bu, aku seperti kalah keren dengan mereka. Aku seperti makhluk peninggalan purba. Ketinggalan jaman bu.”
“Ayo ikut ibu, ada yang mau ibu tunjukan.”
“Ha? Apa bu?”
“Ikutlah saja”

Di ruang tamu..
“Coba lihat foto ini nak. Ini kakek buyutmu.”
“Iya bu, dan ini kakek.”
“Lihat, ini siapa?”
“Itu ayah bu, ayah dikenakan oleh bapak presiden.”
“Iya, tepat sekali. Kini kamu mengerti nak?”
“Mengerti apa bu?”
“Nak, apa semua orang menghormati presiden?”
“Iya bu, tentu saja”
“Semua orang memandangnya, semua orang menghormatinya. Beliau adalah orang yang dituntut bisa menjadi sosok panutan. Untuk menjadi panutan, salah satu caranya dengan berpenampilan baik nak.”
“Iya bu.”
“Lihat, mayoritas foto foto presiden ini, ayahmu selalu bersamanya. Kenapa begitu?”
“Kenapa bu?”
“Karena ayahmu pantas berada di sana dan dikenakan oleh presiden. Kita nak, sebagai Bangsa Batik, bukanlah bangsa yang kuno, dan tidak menarik. Sebagai bukti, dari kakek buyutmu, sampai ayahmu, mereka selalu setia dikenakan oleh presiden. Kita ini budaya nak. Kita budaya asli negeri ini. Memang kita kalah keren dengan kawan kawanmu, yang merupakan Bangsa Formal, Bangsa Sexy serta Bangsa Glamor. Tapi ingat nak, kita memiliki nilai historis tinggi, kita memiliki akar budaya yang terikat erat dengan negeri ini. Kita bukan orang biasa, kita adalah bangsawan.”
“Benarkah bu kita bangsawan?”
“Tentu saja nak. Di negeri ini, para manusia telah menyadari keberadaan kita, keberadaan yang sempat dipinggirkan. Bahkan nak, kini mereka memberi apresiasi tinggi bagi kita, yaitu hari bangsa kita, Hari Batik Nasional.”
“Hari batik nasional? Benarkah manusia membuat hari itu untuk kita bu?”
“Iya nak, mereka memperingatinya pada tanggal 2 Oktober pada sistem penanggalan mereka. Apakah kawan kawanmu memiliki hari kusus untuk mereka?”
“Setauku tidak pernah bu, mereka tidak pernah menyebutkan ada hal seperti itu.”
“Jadi, apa kini kamu sudah paham nak?”
“Iya bu, aku paham... Bu, apakah mungkin, kita bisa dikenakan oleh seluruh orang di dunia? Aku ingin membuktikan pada dunia kalau bangsa kita, Bangsa Batik tidaklah sekuno danterpinggirkan seperti yang mereka kira.”
“Tentu saja bisa nak, pasti bisa. Untuk itu, bersoleklah. Bersoleklah sebaik mungkin. Tapi ingat nak, jangan meninggalkan karakteristik bangsa kita, Bangsa Batik.”
“Iya bu, aku mengerti. Aku akan bersolek, aku akan membuktikan dan menunjukan pada dunia keindahan kita.”
“Betul nak, lakukanlah, buat bangsa kita bangga, dan buat negeri ini bangga nak.”
“Iya bu, pasti..”


Baktiku Padamu

Sejuta, dua juta atau bahkan lima juta di akhir pekan.
Itu uang jajanku,yang kuperoleh, sendiri.

"Ini, tiga juta rupiah, terimakasih ya, om anton puas sama kamu"
"Ya om, sama sama"
"Minggu depan kita ke puncak ya"
"Ya, terserah om saja"

Yup, om anton lah yang telah membiayai kebutuhan ku.
Uangnya ku tukar dengan surga dunia, penawaran yang sepadan bukan.

23.45, Di depan rumah.
"Dasar anak setan, dari mana saja kau? Pergi pagi pulang malam. Tak
jelas kemana perginya"
"Sudah ku bilang, aku bekerja, ini ada sisa sejuta, buat mama"
"Dari mana uang sebanyak ini? Mencuri? Atau melacur?"
"Ah, tak penting, intinya besok ada sesuatu di meja makan.."
Cih, sudah diberi tapi masih saja protes, gumaku dalam hati.

Clik, kukunci pintu kamar.
Kutanggalkan semua kain yang melekat di tubuh ini.
Headset terpasang di telinga, lantas ku hempaskan badan ini ke ranjang.

Lantunan lagu itu mendayu di telingaku..
Hahaha, tak terdengar lagi ocehan mamaku.
Terdiam dia bermandikan rupiah.

Terimakasih mama, terimakasih atas jasamu.
Terimakasih kau pernah membawa om anton ke rumah, ketika kalian mabuk.
Kini, biarlah kugantikan jabatanmu, meneruskan perjuanganmu, di
belantika kehidupan malam..

Ah, tepat, ini lagu spesial, kutinggikan bar volumenya..
'Ini hidup wanita si kupu kupu malam, bekerja bertaruh seluruh jiwa raga'

Tuak

Ternyata memang benar, tuak itu bisa menghilangkan rasa sakit yang ku
alami, yang tak tertahankan.

Terima kasih, cinta ku, kau telah menyembuhkan rasa sakit dengan memberiku tuak.

Tak lagi kurasa perutku yang melilit.
Tak kurasa lagi tekanan pada kemaluanku.
Tak ada lagi semuanya, tak ada beban.
Bahkan, janin yang ada di perutku pun tak menendang lagi, nampaknya
dia telah tertidur pulas.

Ya, janin hasil hubungan kita, janin terlarang, janin yang tak seharusnya ada.

Kau bersikukuh untuk menggugurkannya, ketika aku memaksamu bertanggung
jawab atas semua ini.
Aku tak kuasa membunuh cinta kita.
Aku terus menangis.
Aku kesakitan, janin ini seperti berontak dalam perutku.

Tapi, lagi, semua itu hilang, aku bagai terbang, semua terobati seketika..
Seketika kau memberiku tuak itu.

Terimakasih sayang, kini aku tak harus memintamu bertanggung jawab,
karena, dunia kita berbeda.

Dulu Kita Belajar Berjalan Tanpa Bantuan Pacar [part 1]

Di ruang kelas B-107, dengan saksi 40 kursi kuliah, papan tulis, infocus, meja dosen dan beberapa spidol, cerita ini terjadi... [ya, memang tidak ada AC di kelas ini]

"Cukup... Aku sudah muak dengan ocehan mu.." hardik pemeran pertama, sebut saja namanya Susi Bella Yanuar, selanjutnya saya singkat menjadi,,, errr.. ok, selanjutnya dipanggil Susi saja, supaya tidak ada kerusuhan yang terjadi karena terbitnya tulisan ini di blog saya.

"Ocehan? Kamu anggap aku ini tukang oceh?? Hm. maksudku, kamu anggap aku ini pengoceh?? Err.. atau apalah itu namanya... Seumur umur baru kamu yang bilang aku pengoceh, emang ada potongan muka Beo-1) ya??" walo dalam kondisi genting, aktor ini [lawan main pemeran pertama] masih sempat 'guyon' walopun malah terkesan 'wagu'.

1) sejenis burung, biasanya hitam dan berbulu, serta bisa meniru kata kata majikannya, tapi belum ada jenis burung ini yang mampu menghapal rumus phytagoras.

"Ga lucu tauk..." SB.. upss.. Susi sewot..

"Lah, sapa juga yang ngelucu..." setelah terdiam sesaat, dia kembali melanjutkan kata katanya.. "Sekarang kamu bilang aku cuma pengoceh, dulu kamu bilang aku ini pangeranmu, jadi mana yang benar??"

Braaakkkk....

Tiba tiba keduanya terkaget oleh suara pintu yang digedor...

Satpol PP??

Bukan saudara saudara, mereka memang terkena 'garukan' karena masih berada di kampus pada jam segini, berdua pula..

"Hey, siapa kalian?? Sedang apa kalian di kelas ini?? Kalian mau macam macam ya?? mau berasusila ya??"

Sesosok kepala tiba tiba dan 'mak bedunduk' muncul dari pintu di sudut kanan kelas, di bagian depan..

Dengan lantang, sang aktor [yang belum gue kasih nama] menjawab dengan nada tinggi..

"Lha anda sendiri siapa?? Tiba tiba masuk kelas di jam segini, tidak sopan!!! Mustinya anda mengetuk pintu, bukan menghantam pintu.. Tidak tau sopan santun.. Tidak pernah mengenyam bangku pendidikan pasti... Iya kan?? Mengaku saja.."

Berbeda dari si aktor yang tampak geram karena diskusi after class ini diganggu sesosok makhluk, Susi justru tegang. Dia membayangkan kalo mereka berdua akan digelandang ke polsek terdekat karena dituduh bertindak asusila di dalam kelas.. Gak keren kalo besok wajahnya mucul sebagai headline koran lokal, regional maupun internasional bahkan sampe jadi berita utama di Buser atau Patroli. Nggak keren, blass...

"Lho, kamu ini ditanya sama orang tua malah ngelunjak.. Ayo ikut saya ke kantor... " kata orang yang tadi kepalanya nongol.. Sekarang seluruh badannya sudah keliatan..

"Ampun, pak.. Kami ga ngapa ngapain kok, pak.. Kami cuma lagi diskusi.." kilah Susi..

"Halah, diskusi apa? Diskusi kok berduaan.. Sudah ga perlu banyak alasan, ayo ikut saya.."

"Lho, jelas bedua dong pak, kan kami lagi diskusi, kalo sendirian itu namanya ngayal, kalo rame rame itu namanya demo..." jawab si aktor.. [sampe sekarang gue belum tau mau kasih nama siapa]

"Ga percaya.. Diskusi atau mau berbuat kalian ini??"

"Berbuat???" tanya Susi heran.. --> masih polos

"Lho, serius pak, kami diskusi.. Ini buktinya.." si aktor menunjuk beberapa lembaran kertas yang sobek sobek, kotak pensil yang telah terkapar di lantai serta isinya yang sudah tercecer berantakan..

"Pokoknya ikut saya ke kantor, nanti kalian jelaskan di sana..."

"I...iyaaaa, pak.." jawab Susi terbata bata.

Dan ketiganya pun berjalan beriringan dengan riang gembira ke kantor..

Ya enggak lah, kalo riang gembira mah mau piknik namanya..

Sesampainya di kantor-2) mereka berdua duduk bersebelahan, menghadap makhluk yang tadi nge-gep mereka di ruang kelas..

2) kantor itu letaknya di sebelah kanan free space center building, yang biasanya jadi tempat bermacam macam pengumuman, karena memang ada mading di situ. Nah, free space center building itu letaknya di kanan rooster.. [coba tebak kampus mana ini??] --> sudut pandang saya dari jalan masuk gedung ini..

"Siapa nama kamu?" tanya orang itu..

"Susi, pak.. Susi Bella Yanuar."

"NIM?" tanya si bapak lagi..

"114040000" --> kok mirip nomer telp saya ya?? (unsure)

"Kamu, siapa nama kamu?" tanya si bakap ke aktor..

"Nama saya...???" si aktor malah tanya balik..

[wajar dia tanya balik, secara gue belum kasih nama ke dia..]

"Iya, nama kamu siapa anak muda??" jelas si makhluk yang tadi kepalanya nongol..

"Ughh... sebentar pak..." si aktor mengeluarkan dompet dari sakunya, mengeluarkan KTP, membaca sekilas lalu berkata "Sony Laksono, pak.."

"Itu nama asli kamu??" selidik makhluk yang tadi kepalanya nongol.

"Bukan, pak.. Nama asli saya Mawar.." Jawab si aktor yang belakangan diketahuin bahwa namanya Sony Laksono.

"Jangan bercanda kamu!! Sony itu nama kamu?!?!" bentak si makhluk yang tadi kepalanya nongol.

"Siap, pak.. Iya, itu nama asli saya.. Saya bersumpah atas nama pemimpin bangsa ini kalo itu memang nama saya" jawab si Gayu.. eh, Sony, sambil terhentak dan berdiri.. Kayak mau di sidang aja.. [padahal kan emang lagi disidang]

"NIM kamu berapa??"

"NIM atau nomer seri paspor pak?"

"NIM!!"

"Oh, iya pak, sebentar.." Sony kembali membuka dompetnya..

Ketika membuka dompet, si makhluk yang tadi kepalanya nongol berkata "Kamu tidak hapal nama, NIM, lalu apa yang kamu hapal?? Mahasiswa macam apa kamu itu.."

Sony asih mengubek ubek dompet.. Dia tidak menemukan KTM di dompetnya..

Hingga Susi berkata "Son, KTM mu kan ada di Rental DVD itu.."

Gubrakkk...

Yak, beginilah kelakuan mahasiswa jaman sekarang..

Menggunakan KTM sebagai jaminan pinjam DVD..

Hayoooo.... Siapa yang seperti itu juga?!?!?!?!?!

"Dasar mahasiswa ga tau diri, masak KTM digadaikan.. Mau jadi apa kamu, ha??"

"Mau jadi dokter, pak.." jawab Sony..

"Kalo mau jadi dokter, kenapa kuliah teknik??" tanya Susi..

Nice question...

"Apa yang kalian lakukan di kelas tadi??"

"Ya tadi kami sedang ngobrol pak.." jawab Susi..

"Apa yang kalian bicarakan??" tanya si makhluk yang tadi kepalanga nongol sembari mencatat, menulis sesuatu..

"Eh, itu dicatat ya pak?" tanya Sony.

"Tentu saja lah, ini untuk berita acara, besok saya serahkan ke bagian kemahasiswaan, biar bagian itu yang memutuskan.."

"Lho pak, kan kami ga ngapa ngapain.." sergah Sony.

"Apa yang kalian obrolkan??" tanya si makhluk yang tadi kepalanya nongol tanpa menghiraukan sergahan Sony.

"Hm.. Jadi gini pak, saya tadi mau putusin si Sony.."

"Apanya yang mau diputusin??"

"Maksud bapak??" tanya Susi.

"Ya mau mutusin apanya Sony??"

"Bukan apanya kali pak, saya ini mau diputusin sama Susi, hubungannya.. Kami pacaran."

"Iya, sebelumnya kami pacaran.."

"Hm.. Lantas, sekarang kalian sudah putus??" tanya si makhluk yang tadi kepalanya nongol ke Sony.

"Belum, pak.. Saya belum mau.."

"Ok, laporan sudah saya catat, besok kalian menghadap di bagian kemahasiswaan gedung D jam 9, jangan terlambat"

"Baik, pak.." jawab pasangan yang hubungannya serta masa depannya di kampus ini sedang berada di ujung tanduk.

Dengan langkah gontai laksana prajurit kalah perang, Susi menapaki jalan dari gedung B menuju gerbang..

Langkahnya terhenti di ATM pojokan persimpangan jalan.

Persimpangan jalan yang jika dilihat dari arahnya memandang sekarang, ke kanan adalah untuk menuju area parkir motor yang baru..

Sisi kirinya, area motor lama yang langsung terhubung dengan pintu masuk timur gedung B.

Area parkir motor lama itu menyimpan beberapa kenangan.

Kenangan indah yang telah menjelma menjadi kenangan pahit.

Ya, setidaknya hingga 4 hari yang lalu, tempat itu masih menyimpan kenangan indah.

Lama Susi terpaku memandangi area parkir itu..

"Kok ngelamun??"

Sontak, Susi terloncat dari lamunannya ketika dari belakang ada yang berkata 'kok ngelamun' itu tadi sembari menepuk bahunya-3).

Spontan Susi memalingkan kepalanya kebelakang, bukan memutar kepalanya ke belakang lho ya..

Dia mendapati Udin 'nyengir kuda' di hadapannya.

3) dadanya??? you wish!!!

"Ngapain hari gini ngelamun di parkiran? motor elo ilang?" tanya si Udin.

"Kagak, gue cuman.. Hm.. Ga ngapa ngapain sih, cuman habis dari gedung B aja.. Ini juga mau balik."

"Ouww.." respon si Udin plongo, mendengar jawaban Susi.

"Eh, elo juga ngapain di sini?" tanya Susi balik.

"Gue lagi nungguin cowok gue. Dia praktikum di gedung C. Niatnya sih habis praktikum mau ke BEC."

Susi tersenyum dalam pedih..

Dia teringat, dulu sering menemani si Sony ke BEC.

Persis seperti Udin dan cowoknya sekarang,,

Wootttt??

Tunggu dulu..

Sebenarnya ini gimana ceritanya??

Udin dan cowoknya??

Apa ini romantika HIMAHO??

Himpunan Mahasiswa Homo???

Apa yang sebenarnya terjadi??

Kenapa Udin punya cowok??

Siapa seberannya Udin??

Apa yang terjadi 4 hari lalu di parkiran sehingga membuat Susi ingin putus dengan Sony??

Bagaimana persidangan Susi dan Sony di bagian kemahasiswaan besok jam 9??

Ohhh..

Cerita ini terlalu berbelit dan membuat saya gila...

Sang penulis berbicara...

Anda sekalian tidak perlu bingung..

Memang sekarang cerita ini masih menggantung..

Inti pembahasan dari cerita ini belum muncul..

Ini masih sekedar konflik awal saja..

Untuk memetik nilai yang terkandung di cerita ini, anda harus membaca part-2 nya..

Semua misteri akan terungkap..

Baik itu kisah HIMAHO, peristiwa 4 hari lalu, maupun sidang esok pagi..

Semua akan dibahas tajam, aktual, terpercaya serta berbobot bagaikan Golok!!!

Nantikan lanjutannya, besok..

Yup, besok..

Besok kapan, entahlah..

Saya sendiri tidak tau..

Tapi tunggu saja besok..

Sekian...

[bersambung]

Cerpen - Kita Sesuai tapi Tak Sama

"Ayah tu ya..." kata Ara pada Dana "Dari dulu sampai sekarang ga pernah berubah... Tetep aja egois, majuin logika daripada perasaan"

"Lha bukannya gitu, kan ini memang kebutuhan dan semua ini juga buat kita, bun..." dalih Dana pada istrinya.

"Itulah yang bunda takutkan dari dulu, ayah tu egois, kerjaan aja yang dipikirin, gimana perasaan bunda ayah pasti ga tau.."
"Dulu katanya kalo kita udah berumah tangga, ayah bakal lebih perhatian, nyatanya mana?"

Konflik itu muncul.
Muncul setelah Dana memberitahunya.
Spontan Ara kecewa. Tak jauh beda.
Memang seperti itu sikap Dana yang dia kenal.
Gila kerja, bahkan sampai egois, mementingkan pekerjaan dengan alasan 'bekerja itu ibadah, dan aku bekerja untuk keluargaku'.

"Iya, bunda tau alasan ayah ambil job itu, bunda paham, yah. Bunda sangat paham" Dana hanya mampu termenung.
Pertempuran batin.
'Mana yang harus ku pilih, tetap di sini bersama istriku dan orang tuanya atau aku harus menerima tawaran kerja itu dan merantau tanpa istriku?' pertanyaan itu terngiang di hati Dana.

Jelas jika merantau berarti dia harus meninggalkan istrinya.
Hamil anak pertama plus adaptasi lingkungan hidup baru bukanlah paket combo yang menyenangkan bagi Ara.

"Bunda, ya, ayah memang egois. Ayah harus mengambil langkah ini. Maaf. Ini demi kita dan anak kita"

Beberapa Hari Setelah Dana Merantau.

"Lha, mustinya elo support laki elo, bukan ngehalangin dia buat kerja. Toh hasil kerjanya buat sapa coba? Buat keluarga elo juga kan.." kata Shab, sahabat Ara.
Logika Ara mulai berjalan, tapi perasaan halus dan lembutnya merasa terkoyak saat fakta sang suami memilih bertugas di luar daerah daripada istrinya itu.

"Gini deh, ini gue habis baca dari buka, tapi gue lupa buku apa dan kalimat sempurnanya macam apa, tapi gue tau intinya. Cek email lo, Ra.." kata Shab.

"Iye. Bentar, gue cek dulu. Ntar gue telp elo lagi. Thanks ya. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam" jawab Shab dari telponnya.

5 Menit Kemudian, Di Tempat Dana Merantau

"Maaf, sebentar..." kata Dana pada clientnya.
Dana membuka pesan masuk itu.. Did I say that I miss you before?' Dana pun tersenyum dan menulis 'nope for today' lantas menekan tombol 'send'.
Ga sampai 10 detik, kembali ada pesan masuk yang isinya 'miss you, ayah'.
Tombol 'reply' ditekan lantas mengetikkan sesuatu.
'miss you, bunda..'.
'Message Delivered to Bunda'

*TAMAT*

Guys, elo penasaran ga isi email si Shaa? Kalo iya, langsung ini disimak..

"Laki laki dikaruniai Alloh sifat khusus yang dominan seperti keras dan kuat, banyak berfikir sebelum bertindak dan lambat serta kurang memberi perhatian. Mengapa demikian? Karena tugasnya tidak jauh dari fungsi perbekalan sifat tersebut. Mereka harus mendayagunakan akalnya sebelum bertindak, karena akibat dari tindakannya akan berdampak besar. Sedang wanita dibekali Alloh dengan kelembutan dan sikap penyayang. Itulah makhluk yang masing masing punya sifat istimewa. Kekurangan akal pada wanita dan kurang peka pada kehalusan dan kasih sayang maupun perhatian pada laki laki bukanlah cela. Itu bukan aib, bukan kualitas, hanya soal kuantitas saja kekurangan itu. Jadi, haruskah kita berselisih lagi?"

Cerpen-Dialog "Itu Menggangguku, Apa Kamu Sudah Siap?"

“Ara…” sapa Dana, “hm.. ada waktu sebentar ga? Aku mau ngobrol bisa ga?”

“Eh, iya, Dan.. Kenapa ya?”

“Ehmmm… Kalo misal kita ketemuan gitu gimana? Ga enak ngomongnya kalo lewat telpon gini” Dana mengajak Ara ketemuan.

Hening.

Ara bingung, dia menduga duga apa yang sekiranya akan Dana bahas.

Ara mulai menebak, masalah dakwah minggu depan kah, masalah kunjungan panti asuhan atau masalah sanitasi air di mushola yang agak terganggu.

Kembali Ara berpikir, ‘ah pasti tetang kunjungan panti asuhan’.

“Oh, iya, bisa, nanti aja sekalian di forum” jawab Ara atas ajakan Dana.

Memang, nanti ba’da ashar akan ada forum pembahasan tentang kunjungan panti itu.

Kunjungan yang akan diadakan 2 minggu lagi.

“M-misal…” Dana tertahan untuk melanjutkan kata katanya, “misal kita ngobrolnya setelah forum gimana?”

“Setelah forum? Lho, mau ngobrol apa sih? Kalo emang ada kendala di divisi kamu, mending diobrolinnya di forum aja” Ara belum tau apa yang sebenarnya akan Dana utarakan, ia masih berpikir obrolan itu membahas kunjungan sosial.

“Eh, ya udah deh, lihat nanti aja.. sampe ketemu di sekre ya, Ara.. Hm.. Ara janga lupa makan ya sebelum ke sekre, kan nanti kita butuh tenaga buat berpikir..” mulai perhatian yang menjurus nampaknya.

“Iya, makasih ya… lhoo.. ehh… kok udah dimatiin, salamnya mana ya???” terheran si Ara ini.

Setelah diskusi dalam forum usai, Dana menghampiri Ara yang sedang berjalan keluar dari Gedung Student Center.. [lho.. kok tiba tiba udah selesai acaranya?? Banyak banget yang di-skip?? Suka suka gue lah, pan gue yang buat ceritanya..]

“Ara..” panggil Dana.

“Iya” jawab Ara.

Dana menghampiri Ara yang sedang duduk duduk di teras Student Center, hanya 3 meter dari temapt Dana berdiri.

“Eh, gimana, mau ngobrol apa?” Tanya Ara.

“Hm….” Terbata Dana dalam mengutarakannya “G-gini Ara, aku mau ngomomng sesuatu yang… yang gimana ya.. yah, sesuatu yang penting bagi aku, tapi mungkin kurang berkenan di hati Ara”.

“Ya udah deh, Ara.. Aku jalan dulu ya, nanti aku kabarin deh susunan acaranya” kawan ara yang tadi duduk di samping Ara memilih untuk pergi ketika tau gelagat Dana yang ingin ngobrol ‘in private’ dengan Ara. Memang jelas terpancar di muka Dana kalau dia ingin mengutarakan sesuatu 4 mata, seolah matanya berkata ‘minggir lo… gue mau bicara serius ama Ara’.

“Lha, kok gitu… Dibahas di sini aja deh, Shab..” cegah Ara saat Shabrina meninggalkannya.

Ya, nama kawannya itu Shabrina.

Dana mengambil langkah, ia duduk di bangku yang di tinggalkan oleh Shabrina.

Spontan, Ara menggeser bangku itu sekitar 30 centimeter ke kanan.

“Gini, Ara…” mulut tiba tiba kering, jantung berdebar, tangan berkeringat dan guntur mulai menggelegar [yang terakhir itu Cuma bercanda] ketika Dana membuka mulut.

“Aku mau bilang sesuatu, sebenarnya ini sudah lama aku mau sampaikan, tapi aku masih ragu ragu.”

“Tentang apa nih? Tentang lokasi panti yang mau kita kunjungi ya? Iya sih, aku rasa panti itu udah cukup mumpuni, mereka aja punya mobil panti, kalo menurut aku sih mendingan kita pilih panti yang benar benar membutuhkannya.” Begitulah Ara, masih berpikir kalo ini akan membahas kunjungan social.

Tersirat rona kecewa di wajah Dana.

“Bukan, bukan itu, Ra, yang mau aku omongin”

“Lantas?” Tanya Ara mulai penasaran.

“Aku di sini mau ngungkapin sesuatu..” ujar Dana, lirih…

“Sesuatu?”

“Iya, Ra.. Sesuatu dari hati”

“Eh, dari hati? Maksudnya apa, Na?

“Maaf sebelumnya” sembari mengeser posisi duduknya untuk lebih condong kea rah kanan, menghadap lawan bicaranya. Ya, kea rah Ara,dan nampak Ara mulai terganggu dengan kondisi ini, tapi dia lebih memilih diam dan mendengarkan apa yang akan Dana utarakan.

“Aku…”

“Aku menaruh hatiku ke kamu, Ra” akhirnya terucap juga kata kata yang telah Dana pendam sekian lama.

“Sudah lama aku menaruh hati ke kamu”

Tersentak, merasa dilecehkan, itu yang Ara rasakan.

Bukan kegembiraan, bukan bunga bunga yang ia lihat saat ini, tapi nyala api nun jauh di sana yang semakin mendekat.

“Aku tau ini salah, tapi musti bagaimana lagi, aku ga bisa terus terusan menahan rasa ini”

Terdiam kini keduanya.

“Aku ga bermaksud meminta kamu jadi pasanganku, aku hanya mengutarakan…”

Makin hening keduanya.

Dari api yang membara di ujung sana, kini telah berubah menjadi bunga sakura yang bertebaran..

Indah, harum dan menenangkan.

Itu yang Ara rasakan.

Bukan karena apa yang diucapkan Dana, tapi karena ada Abang Jual Batagor yang lewat.

“Dana, aku belum makan, aku mau beli batagor dulu. Sebentar ya..” kata Ara.

“Bang, batagornya seporsi dibungkus ya.. Sambelnya banyakin, ga pake kecap ya bang..”

“Iya, neng..” kata Abang itu menerima pesanan Ara.

Ara kembali ke tempat duduknya, sebelum duduk, ia kembali mengeser bangku itu kea rah kanan, menjauh dari Dana.

Bagaimana dengan Dana? Dia masih membatu, bukan karena durhaka pada ibunya, tapi karena dia tidak menyangka telah mengutarakan perasaannya.

“Dana…” kata Ara datar.

“Ya, aku merasa tersinggung dengan apa yang sudah kamu sampaikan” kata Ara tanpa memandang Dana, ia mengamati si Abang yang sedang meracik batagor. [bukan berarti Ara suka sama Abang Batagor itu lho ya]

“Aku tau itu pernyataan bukan pertanyaan, tapi itu akan menganggu ku Dana, aku harap kamu ga mengingat apa yang kamu ucapkan tadi karena aku juga ga akan mengingat kejadian ini.”

“Oh, iya…” lanjut Ara “Jangan biarkan rasa itu ada, pangkaslah, pangkas sekarang juga. Ingat saja keburukanku supaya kamu bisa menghilangkan rasa itu”

“Lho, kenapa harus ku hilangkan rasa itu?” Tanya Dana…

“Emangnya ada yang salah sama rasa itu? Bukannya itu fitrah ya?”

“Rasa itu memang fitrah, tapi apa kamu sudah berpikir dengan matang dengan mengutarakan rasa itu? Apa kamu udah memikirkan dampaknya bagi kamu dan orang yang bersangkutan?” masih memandang Abang Batagor Ara bicara.

“Jelas, Ara.. Aku sudah memikirkannya sejak lama” jawab Dana.

“Apa kamu sudah yakin pada rasa itu? Apa kamu yakin itu bukan nafsu?” tanya Ara.

“Rasa ini tulus, dari hati” Dana berusaha meyakinkan orang di depannya, Ara.

“Oh, ya sudah.. Terima kasih ya..” kata Ara, singkat dan ambigu.

“Sudah? Terus jawaban Ara?” Dana tercengan oleh respon Ara.

“Jawaban? Jawaban apa?”

“Jawaban dari apa yang sudah aku katakana..”

“Bukannya itu hanya pernyataan?”

“Tapi…” belum selesai kata katanya, Ara sudah menyela.

“Dana, tadi kamu bilang itu hanya pernyataan, jadi memang ga ada jawaban” jawab Ara.

“Nah, terbukti kan, kamu ada ambisi untuk meminta jawaban. Itu sungguh mengganggu” lanjutnya.

“Tapi, paling enggak kamu bilang apa yang kamu rasakan ke aku, mudah kan…” kejar Dana.

“Mudah? Dana, perasaan ini tidak semudah yang kamu lihat di tv. Tidak semudah orang jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak sesimpel itu. Ini rumit” jelas Ara.

“Apa kamu sudah memikirkan betapa seriusnya ucapan itu? Itu sama halnya kamu berkata ‘Ara, aku mau mengkhitbah mu’, begitu. Kalo memang seperti itu adanya, jangan tanyakan padaku, tapi pada orang tuaku. Tapi kalo bukan seperti itu yang kamu pikirkan, maka yang kamu rasakan itu hanya nafsu belaka”

“Daripada terjadi fitnah, sebaiknya kita akhiri diskusi ini di sini. Maaf, aku harus pulang”

“Tunggu dulu, aku masih ingin bicara” cegah dana saat Ara mulai berdiri.

“Maaf, aku harus pulang”

“Kenapa?” tanya Dana.

“Karena batagorku sudah jadi, aku mau makan batagor itu saat hangat di kost. Assalamualaikum”

Ara berjalan menuju gerobak, membayar dan menuju parkiran motor. Beberapa saat kemudian hanya punggungnya yang terlihat. Semakin mengecil dan menghilang di kejauhan.

“Waalaikumsalam” jawab Dana ketika sosok Ara tak lagi terlihat.

Tamat..

Hiks… Hiks… Hiks…

Haru banget ya, chuy ceritanya..

Ga nyangka gue bisa buat cerita begitu..

[takabur mode active]

Older Posts