Ngaji

Kenapa Tidak Membalas?

Pulang ngaji gue ngadu sama ibu "ma, tadi di surau ada teman yang nakalin aku. Masak dia gangagu aku waktu nulis arab. Mau aku lempar pake kotak pensil deh rasanya"
Dan ibu gue nanggepin gini "nggak boleh gitu, ngger. Anak mama ga boleh balas gitu. Alloh ga suka kalo hambanya membalas orang pake ngelempar gitu".
*untung saat itu gue ga bilang "ga boleh ngelempar ya, ma? Kalo nonjok ato colok matanya pake kapur gimana? " untung gue ga sekeji itu*

Ibu gue ngasi wejangan "sampai kapanpun, jangan pernah balas orang yang nakalin kamu ya, nak. Janji sama mama ya".

Seperti biasa, hanya sekalimat macam itu, pembahasannya bisa puanjang.

Kenapa kita ga boleh bales orang yang nakalin kita? Kan orang itu udah berbuat sesuatu yang bikin kita ngasih nilai negatif ke dia dan ingin orang itu merasakan hal yang sama seperti yang kita rasakan.

Ada yang bisa jawab kenapa?

Karena *kata ibu gue* manusia diciptakan Alloh itu mempunyai hati.

Nah lo.. Apa hubungannya ga boleh membalas keburukan dengan keburukan karena manusia telah terinstal dengan hati.

Gue bingung. Nah di kondisi kaya gini *butuh pencerahan* gue lari ke bapak.

"pa, hubungannya ga boleh bales orang nakal pake dinakali ganti sama punya hati apa ya?"

Bapak gue bercerita.
"Dulu Rasulullah saat menuju surau mendapat ujian dari Alloh melalui seseorang. Apa ujiannya? Dalam perjalanan beliau diusik oleh seseorang dengan dihina, diludahi bahkan dilempar kotoran di jalan yang dilalui Kanjeng Rasul. Peristiwa itu terjadi selama berhari hari. Sampai pada suatu saat, Rasul tidak menemui ujian tersebut saat Beliau hendak menuju surau. Kanjeng Rasul heran, ada apa ini. Beliau pun bertanya pada orang sekitar, di mana gerangan orang yang biasanya menyambut Rasulullah itu. Penduduk pun menjawab, orang itu sakit, Ya Rasulullah. Kanjeng Rasul pun meminta salah satu penduduk mengantarkan ke kediaman orang yang sakit tersebut. Sampai di rumah orang itu, Kanjeng Rasul mendapati orang yang biasa menyambutnya itu tertidur lemah, benar benar sedang sakit. Terkejutlah orang itu ketika rumahnya didatangi Rasulullah. Dia pun bertanya tanya, mau apa Rasul ke sini. Kanjeng Rasul pun menjelaskan bahwa beliau rindu sambutan orang tersebut. Mendengar penjelasan itu, orang yang semula benci pada Kanjeng Rasul pun menangis, betapa mulianya pribadi Rasul ini. Setelah dijahili selama ini ternyata Beliau mau datang menjenguk. Akhirnya menangislah orang tersebut. Tidak hanya menangis, tapi juga bertaubat dan mulai melangkah di jalan Alloh."

Hm..
Sudah pada jelas?
Jadi begini, manusia kan terlahir fitri kan ya. Terlahir suci. Perkara saat menjalani hidup nanti rada melenceng, tetap bisa dikalibrasi untuk menjadi setingan awal. Dengan catatan, masih ada iman di jiwanya. Nah hubungannya sama hati? Ya si hati itu lah tempat bersemayamnya iman. Eh, dalam hal ini, hati bukan maksudnya liver lho ya. Hati di sini itu qolbu.. Ingat, qolbu, bukan kalbu. Jauh tuh artinya kalo salah ketik.

Sebatu apapun qolbu seseorang, jika telah tersentuh oleh ketulusan dan diberi cahaya oleh Alloh, ya hangat dan luluhlah qolbu itu.

Kenapa kita ga boleh balas? Kenapa? Ha, kenapa? Kenawhy?

Kenapasih kita harus membalas?

Gue tanya, kenapa elo mau ngebales orang yang udah jahatin lo?
Mungkin salah satu alasannya adalah supaya si dia juga merasakan apa yang elo rasakan. Gitu ga?
Wah, kalo alesannya setipe sama itu mah sama aja kalian terjebak dalam kubangan kekhilafan. Dendam itu mah, ga rela diri disakiti dan pengen menyakiti orang. Masak mau sama sama khilaf? Mustinya mah kalo ada orang yang khilaf, elo ingetin dong, ato minimal jangan sampe terpancing sama sama khilaf. Kalo sama sama khilaf siapa dong yang bakal ingetin? Ga bakal berhenti saling menyakiti kan jadinya.

Guys, kita punya junjungan, yaitu Rasulullah. Tauladan di segala jaman. Permasalahan macam gini sudah beliau contohkan. Nah, sekarang tinggal kita mengaplikasikan..
Ya tho..

Kejahatan tak akan habis jika kita terus berpikir untuk menumpasnya dengan jalan yang sama. Pelaku kejahatan adalah orang yang khilaf. Jangan benci orangnya, tapi benci kejahatannya. Maafkan orangnya dan mari ajak dia kembali ke jalan Alloh.

*Ini cerita gue waktu kecil. Dulu dan dulu sekali. Walau begitu, janji gue pada ibu masih gue pegang terus dan terus. Kelak, jika Alloh mempercayakan anak pada gue, akan gue ajari dan tanamkan apa yang ibu tanamkan ke gue*

Khotbah Ngajak Jihad

Assalamualaikum..

Waktunya makan siang..
Ee tadi tho itu khotib jumat nya rasanya udah mau ngajak perang deh.
Segala kemaksiatan di dunia bisa diampuni jika kita meninggal dengan kondisi khusnul khatimah a.k.a mujahiddin.
Mau brutalnya macam apa, kalo meninggal di jalan Alloh, bakal dijamin masuk surga.
Bahaya nih pemahaman macam itu kalau ditelan bulat bulat tanpa dikunyah dulu.
Ini dia salah satu faktor pemicu lahirnya kelompok kelompok separatis ekstrim yang niatnya menghancurkan kaum kafir dengan cara yang kurang tepat..
Wah... bahaya tho kalo gini ceritanya.. Yang ada, jamaahnya hawanya udah pengen jihad mulu nih kalo gini ceritanya..
Well, kita harus bijak dalam menilai sesuatu.
Seperti yang pernah gue bilang, jangan menilai sesuatu dari satu sisi saja.
Coba pandang dari sisi yang lain juga..
Ok, guysss...
Soto gue udah datang, mari maksi...

Wassalamualaikum..

(posted via X6)

Cerpen-Dialog "Itu Menggangguku, Apa Kamu Sudah Siap?"

“Ara…” sapa Dana, “hm.. ada waktu sebentar ga? Aku mau ngobrol bisa ga?”

“Eh, iya, Dan.. Kenapa ya?”

“Ehmmm… Kalo misal kita ketemuan gitu gimana? Ga enak ngomongnya kalo lewat telpon gini” Dana mengajak Ara ketemuan.

Hening.

Ara bingung, dia menduga duga apa yang sekiranya akan Dana bahas.

Ara mulai menebak, masalah dakwah minggu depan kah, masalah kunjungan panti asuhan atau masalah sanitasi air di mushola yang agak terganggu.

Kembali Ara berpikir, ‘ah pasti tetang kunjungan panti asuhan’.

“Oh, iya, bisa, nanti aja sekalian di forum” jawab Ara atas ajakan Dana.

Memang, nanti ba’da ashar akan ada forum pembahasan tentang kunjungan panti itu.

Kunjungan yang akan diadakan 2 minggu lagi.

“M-misal…” Dana tertahan untuk melanjutkan kata katanya, “misal kita ngobrolnya setelah forum gimana?”

“Setelah forum? Lho, mau ngobrol apa sih? Kalo emang ada kendala di divisi kamu, mending diobrolinnya di forum aja” Ara belum tau apa yang sebenarnya akan Dana utarakan, ia masih berpikir obrolan itu membahas kunjungan sosial.

“Eh, ya udah deh, lihat nanti aja.. sampe ketemu di sekre ya, Ara.. Hm.. Ara janga lupa makan ya sebelum ke sekre, kan nanti kita butuh tenaga buat berpikir..” mulai perhatian yang menjurus nampaknya.

“Iya, makasih ya… lhoo.. ehh… kok udah dimatiin, salamnya mana ya???” terheran si Ara ini.

Setelah diskusi dalam forum usai, Dana menghampiri Ara yang sedang berjalan keluar dari Gedung Student Center.. [lho.. kok tiba tiba udah selesai acaranya?? Banyak banget yang di-skip?? Suka suka gue lah, pan gue yang buat ceritanya..]

“Ara..” panggil Dana.

“Iya” jawab Ara.

Dana menghampiri Ara yang sedang duduk duduk di teras Student Center, hanya 3 meter dari temapt Dana berdiri.

“Eh, gimana, mau ngobrol apa?” Tanya Ara.

“Hm….” Terbata Dana dalam mengutarakannya “G-gini Ara, aku mau ngomomng sesuatu yang… yang gimana ya.. yah, sesuatu yang penting bagi aku, tapi mungkin kurang berkenan di hati Ara”.

“Ya udah deh, Ara.. Aku jalan dulu ya, nanti aku kabarin deh susunan acaranya” kawan ara yang tadi duduk di samping Ara memilih untuk pergi ketika tau gelagat Dana yang ingin ngobrol ‘in private’ dengan Ara. Memang jelas terpancar di muka Dana kalau dia ingin mengutarakan sesuatu 4 mata, seolah matanya berkata ‘minggir lo… gue mau bicara serius ama Ara’.

“Lha, kok gitu… Dibahas di sini aja deh, Shab..” cegah Ara saat Shabrina meninggalkannya.

Ya, nama kawannya itu Shabrina.

Dana mengambil langkah, ia duduk di bangku yang di tinggalkan oleh Shabrina.

Spontan, Ara menggeser bangku itu sekitar 30 centimeter ke kanan.

“Gini, Ara…” mulut tiba tiba kering, jantung berdebar, tangan berkeringat dan guntur mulai menggelegar [yang terakhir itu Cuma bercanda] ketika Dana membuka mulut.

“Aku mau bilang sesuatu, sebenarnya ini sudah lama aku mau sampaikan, tapi aku masih ragu ragu.”

“Tentang apa nih? Tentang lokasi panti yang mau kita kunjungi ya? Iya sih, aku rasa panti itu udah cukup mumpuni, mereka aja punya mobil panti, kalo menurut aku sih mendingan kita pilih panti yang benar benar membutuhkannya.” Begitulah Ara, masih berpikir kalo ini akan membahas kunjungan social.

Tersirat rona kecewa di wajah Dana.

“Bukan, bukan itu, Ra, yang mau aku omongin”

“Lantas?” Tanya Ara mulai penasaran.

“Aku di sini mau ngungkapin sesuatu..” ujar Dana, lirih…

“Sesuatu?”

“Iya, Ra.. Sesuatu dari hati”

“Eh, dari hati? Maksudnya apa, Na?

“Maaf sebelumnya” sembari mengeser posisi duduknya untuk lebih condong kea rah kanan, menghadap lawan bicaranya. Ya, kea rah Ara,dan nampak Ara mulai terganggu dengan kondisi ini, tapi dia lebih memilih diam dan mendengarkan apa yang akan Dana utarakan.

“Aku…”

“Aku menaruh hatiku ke kamu, Ra” akhirnya terucap juga kata kata yang telah Dana pendam sekian lama.

“Sudah lama aku menaruh hati ke kamu”

Tersentak, merasa dilecehkan, itu yang Ara rasakan.

Bukan kegembiraan, bukan bunga bunga yang ia lihat saat ini, tapi nyala api nun jauh di sana yang semakin mendekat.

“Aku tau ini salah, tapi musti bagaimana lagi, aku ga bisa terus terusan menahan rasa ini”

Terdiam kini keduanya.

“Aku ga bermaksud meminta kamu jadi pasanganku, aku hanya mengutarakan…”

Makin hening keduanya.

Dari api yang membara di ujung sana, kini telah berubah menjadi bunga sakura yang bertebaran..

Indah, harum dan menenangkan.

Itu yang Ara rasakan.

Bukan karena apa yang diucapkan Dana, tapi karena ada Abang Jual Batagor yang lewat.

“Dana, aku belum makan, aku mau beli batagor dulu. Sebentar ya..” kata Ara.

“Bang, batagornya seporsi dibungkus ya.. Sambelnya banyakin, ga pake kecap ya bang..”

“Iya, neng..” kata Abang itu menerima pesanan Ara.

Ara kembali ke tempat duduknya, sebelum duduk, ia kembali mengeser bangku itu kea rah kanan, menjauh dari Dana.

Bagaimana dengan Dana? Dia masih membatu, bukan karena durhaka pada ibunya, tapi karena dia tidak menyangka telah mengutarakan perasaannya.

“Dana…” kata Ara datar.

“Ya, aku merasa tersinggung dengan apa yang sudah kamu sampaikan” kata Ara tanpa memandang Dana, ia mengamati si Abang yang sedang meracik batagor. [bukan berarti Ara suka sama Abang Batagor itu lho ya]

“Aku tau itu pernyataan bukan pertanyaan, tapi itu akan menganggu ku Dana, aku harap kamu ga mengingat apa yang kamu ucapkan tadi karena aku juga ga akan mengingat kejadian ini.”

“Oh, iya…” lanjut Ara “Jangan biarkan rasa itu ada, pangkaslah, pangkas sekarang juga. Ingat saja keburukanku supaya kamu bisa menghilangkan rasa itu”

“Lho, kenapa harus ku hilangkan rasa itu?” Tanya Dana…

“Emangnya ada yang salah sama rasa itu? Bukannya itu fitrah ya?”

“Rasa itu memang fitrah, tapi apa kamu sudah berpikir dengan matang dengan mengutarakan rasa itu? Apa kamu udah memikirkan dampaknya bagi kamu dan orang yang bersangkutan?” masih memandang Abang Batagor Ara bicara.

“Jelas, Ara.. Aku sudah memikirkannya sejak lama” jawab Dana.

“Apa kamu sudah yakin pada rasa itu? Apa kamu yakin itu bukan nafsu?” tanya Ara.

“Rasa ini tulus, dari hati” Dana berusaha meyakinkan orang di depannya, Ara.

“Oh, ya sudah.. Terima kasih ya..” kata Ara, singkat dan ambigu.

“Sudah? Terus jawaban Ara?” Dana tercengan oleh respon Ara.

“Jawaban? Jawaban apa?”

“Jawaban dari apa yang sudah aku katakana..”

“Bukannya itu hanya pernyataan?”

“Tapi…” belum selesai kata katanya, Ara sudah menyela.

“Dana, tadi kamu bilang itu hanya pernyataan, jadi memang ga ada jawaban” jawab Ara.

“Nah, terbukti kan, kamu ada ambisi untuk meminta jawaban. Itu sungguh mengganggu” lanjutnya.

“Tapi, paling enggak kamu bilang apa yang kamu rasakan ke aku, mudah kan…” kejar Dana.

“Mudah? Dana, perasaan ini tidak semudah yang kamu lihat di tv. Tidak semudah orang jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak sesimpel itu. Ini rumit” jelas Ara.

“Apa kamu sudah memikirkan betapa seriusnya ucapan itu? Itu sama halnya kamu berkata ‘Ara, aku mau mengkhitbah mu’, begitu. Kalo memang seperti itu adanya, jangan tanyakan padaku, tapi pada orang tuaku. Tapi kalo bukan seperti itu yang kamu pikirkan, maka yang kamu rasakan itu hanya nafsu belaka”

“Daripada terjadi fitnah, sebaiknya kita akhiri diskusi ini di sini. Maaf, aku harus pulang”

“Tunggu dulu, aku masih ingin bicara” cegah dana saat Ara mulai berdiri.

“Maaf, aku harus pulang”

“Kenapa?” tanya Dana.

“Karena batagorku sudah jadi, aku mau makan batagor itu saat hangat di kost. Assalamualaikum”

Ara berjalan menuju gerobak, membayar dan menuju parkiran motor. Beberapa saat kemudian hanya punggungnya yang terlihat. Semakin mengecil dan menghilang di kejauhan.

“Waalaikumsalam” jawab Dana ketika sosok Ara tak lagi terlihat.

Tamat..

Hiks… Hiks… Hiks…

Haru banget ya, chuy ceritanya..

Ga nyangka gue bisa buat cerita begitu..

[takabur mode active]

Arrrgghhh.... Tolong selamatkan kami...

Assalamualaikum

“ Engkau berkata pada pencuri : 'Silahkan masuk...! '. Setelah kecurian, barulah engkau sadar, kemudian engkau berteria : 'Tolong..., tolong..., aku kecurian!'. “


Coba deh elo baca tulisan diatas 3 ato 4 kali...

Coba elo resapi maknanya.

Eh...

Belum tau maknanya ya??

Hwehehehehe...

Ya udah, lanjut baca aja ampe tulisan ini selesai, gue yakin elo bakal tau maksud dari tulisan di atas itu...


Sebelum ngelanjutin bacanya, gue harap elo nyiapin 'hape' di samping lo, dan tisu secukupnya ya...

Dua benda itu ga begitu penting sih, tapi buat jaga jaga aja..

Sekarang, saatnya menyiapkan fisik dan mental, karena kita akan masuk ke dunia ochy da' vibrator..


[gue saranin lagi, lo ambil wudhu dulu deh sebelum baca ini, dang jangan lupa baca basmallah sebelum bacanya, Ok, guysss...]


Eh elo nge kost ga di sini?

Elo udah punya pacar belum??

Elo pernah punya pikiran ato bahkan udah pernah ngajak pacar elo ke kost??

Walo cuma sekedar bertandang aja gitu, ngobrol tugas kek, makan doang ato ngapain gitu??

Hwehehehehe,,,,

Hayo... Pernah kagak tuh??


Guys...

Tell me the truth...

Have you done it??


Ga bisa kita pungkiri, merantau, jauh dari orang tua bisa kita manfaatkan untuk hidup yang lebih bebas.

Bebas dalam dua sisi, bisa positif maupun negatif.

Yang positf, kita bisa bebas eksplorasi diri, belajar mandiri dan sebagainya.

Tapi kalo iman kita lagi goyah, yah... gimana dong, namanya juga kilap, pacarpun bisa kita gaet ke kost.

Tul ga tuh??


Guys, gue kutip nih ayat Alloh...

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesunggiuhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek” [surat al isra ayat 32]


Dari ayat di atas jelas disebutkan bahwa mendekati zina aja udah ga boleh, lha apa lagi melakukannya...


[tiba tiba terdengar sebuah pertanyaan dari arah audience] –-> berasa sedang dakwah

“Ouw, gitu ya... jadi kita itu ga boleh berhubungan badan sebelum menikah ya?” tanyanya..

Gue jawab, “Ya iya lah. Kan belum halal...”

“Untung saya cuman ciuman doang ama pacar, belum berzina, jadi masih gapapa ya.” balasnya lagi.

Gedubrrraaaakkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!

Entah apa yang harus gue lakukan kalo lagi di situasi macam itu.

Gue bimbang, antara nyeburin dia ke kubangan minyak panas ato masukin dia ke panci prestonya mama gue yang lagi masak sayur asem.--> ngapain sayur asem pake panci presto ya???


Well, guys, zina itu ga cuman berhubungan badan doang kaleee....

Yuk mari ngaji lagi...

Kali ini mari cermati haddist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

'Telah tertulis atas anak Adam nasibnya dari zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tidak bisa tidak. Maka kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya berupa menyimakdengarkan. Lisan zinanya berkata. Tangan zinanya menyentuh. Kaki zinanya berjalan. Dan zinanya hati adalah ingin dan angan angan. Maka akan dibenarkan hal ini oleh kemaluan atau didustakannya'


Jelas tho...

Jadi bukan cuma berhubungan badan yang termasuk zina.

Semua yang ada pada hadist itu merupakan pintu menuju xxx.-->ya lo tau lah maksud gue

Kalo kita memadukan antara surat Al Isra ayat 32 dengan haddist di atas, maka bakal jelas kan aturan yang adan tu macam apa....


Suatu ketika gue lagi cari makan ba'da isya'.

Nah, jam segitukan waktunya anak kost berkeliaran meninggalkan sarang untuk menyambung hidup tuh.-->cari makan juga

Saat itu gue ama sobat gue, taruhlah namanya Terong.-->sengaja ga pake nama bunga, karena bunga itu identik dengan nama samaran perempuan. Sedangkan terong itu... ah sudah lah, lupakan aja.

“Chy, warteg, nasi goreng bojong soang ato lesehan depan MSU?”tanya si Terong ke gue.

“Duit gue nipis nih, warteg aja gimana?”jawab gue.

“Ya udah, nasi goreng aja, entar gue bayarin” katanya.

Asem tenan, bilang aja pengen nsi goreng, ga perlu nawarin gue.

Tapi ya gapapa, toh dia yang bayarin kok.

Singkat kata kami berdua mengarungi jalan sukabirus dan menuju bojong soang via gang desa.

Woot???

Elo ga tau ya?

Ok, tempat yang gue ceritain tuh ada di DayeuhKolot, Bandung..

Nah, cerita puncak akan segera berlangsung, so, perhatiin baik baik ya...

“Wuih, andai aja kita bawa nasi, Chy, ga perlu makan nasi goreng kitanya.” celetuknya.

“Lhah, kok bisa???” gue ngomong gitu tanpa noleh ke belakang. Mengingat posisi saat itu lagi boncengan pake Jupix gue.

“Noh, liat sono... Ada paha tuh, pan tinggal nyiapin nasi ama sambal doang, Chy...” dia terang terangan nunjuk sepasang paha yang nangkring dengan manjanya di pinggir jalan.

“MasyaAlloh.... itu paha diumbar gitu ya? Ga digigit nyamuk tuh??? Ga minat, gue ga makan daging...” jawab gue.

Yah, begitulah, hot pants itu bukan sesuatu yang heboh lagi di Bandung.

Tragis memang, tapi aurat di sini nampaknya sudah menyempit, bukan seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, tapi sudah tereduksi di bagian vital perempuan ama dua kantung 'glandula mamae' doang...

“Chy, pan kita liat begituan itu termasuk zina ye?” tanyanya..

“Iye lah. Kecil sih, tapi zina juga.” jawab gue.

“Kalo ga salah inget itu ada urutannya ya? Pertama liat itu nikmat, kedua syahwat lantas ketiga maksiat ya Chy?” cerocosnya...

Ni orang tanya mulu deh, hemat tenaga nape sih...

“Iye kali” sewot, males gue nanggapinya.

“Berarti tadi gue liat pahanya ga dosa.” katanya bangga.

“Lah, kaga dosa dari mane?”

“Lah, ya iya lah, orang tadi gue liatnya ga pake kedip kok. Kan gue pantengin terus tuh liatnya, jadi masih masuk itungan pertama, belum pindah ke itungan kedua. Jadi ga syahwat dong gue” jelasnya.

Seketika itu pula gue sangat berhasrat ngasiin dia ke rumah makan padang. Biar dijadiin daging rendang.

Pas mau nurunin dia di rumah makan padang, gue teringat masa masa indah saat awal kuliah dulu.

Perjuangan bersama...

Akhirnya gue mengurungkan niat nge-lego dia di ruamah makan padang.


Guys...

Pemikiran macam itu tuh yang nyesatin kita.

Mata kita ini tuh merupakan pintu masuk andalan dari setan lho...

Semuanya berawal dari mata.

Dari mata turun ke hati lantas turun lagi ke.....

Stop...

Coba, kenapa marak tindakan pemerkosaan?

Karena para lelaki kurang bisa mengendalikan matanya plus para perempuan yang mancing napsunya pria. -->secara langsung maupun engga

Jadi siapa yang salah dong kalo gitu?

Kan sama sama salah tuh, jadi setan ya yang salah?

Setan mah ga salah, emang tugas dia gitu, justru setan udah melakukan tugasnya dengan baik.

Coba cermati ayat Alloh berikut...

“Dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang orang jahiliah dulu” [Al Quran surat Al Ahzab ayat 33]

Hayo loh...

Yuk mari jaga pandangan, jangan mengumbar dan jangan terpancing...


Lanjutttt.....

Sekedar sharing ya guys, dulu gue pernah kesengsem ama orang gegara suaranya.

Saat itu , kelar shalat dzuhur di MSU kampus Telkom, gue mutusin buat ngadem dulu di sana.

Duduk santai sambil online.

Posisi gue saat itu ada di halaman depan masjid menghadap ke luar.

Di jalan setapak depan masjid gue liat dan denger [secara ga sengaja] ada sekumpulan cewek yang pakaiannya cukup 'tertutup' walo belum sesuai syariah sedang jalan sambil cekikikan.

Ga terkontrol banget tuh suaranya.

Seketika itu gue teringat kalo suara perempuan ga boleh melebihi suara laki laki.

Agak gimana gitu gue, ga suka banget ama tipikal cewek macam itu.


Nah, beberapa tahun kemudian... –-> loh ko loncatnya banyak bener? Tiba tiba aja udah beberapa tahun kemudian.. suka suka gue dong, kan gue yang cerita...

Gue kenal seseorang.

Akhwat.

Sholehah, baik, lemah lembut dan ilmu agamanya hebat.

Tipikal calon ibu yang baik deh.

Hubungan gue ama dia sebatas kawan sharing aja.

Ga pernah sekalipun ketemu ama dia, cuman di dunia maya aja.

Suatu ketika gue hendak pergi jauh dan gue rasa bakal lost contact ama dia.

Saat itu gue mau pamitan ama dia.

Terjadilah percakapan singkat by phone.

Itu pertama kalinya gue denger suaranya.

Wuih... merdu banget cuy....

Saat it uterbesit pikiran kalo di rumah gue ada suara yang macam ini, pasti kondisi keluarga gue bakal sejuk, adem, ayem, tentrem, gemah ripah loh jinawi...--> lho kok gini...

Gue rasa gue udah jatuh hati...


Sehari...

Dua hari...

Tiga hari...

Berhari hari gue mikirin dia terus.

Kok bisa segitunya ya??

Cuma denger suaranya doang gue langsung sebegitunya ampe kepikiran mulu, pasti ada yang ga beres ini...

Setelah perenungan panjang, gue menemukan satu hal.

“Sialan.... setan itu berhasil memperdaya gue.” umpat gue dalam hati.


Yup...

Setan di hati gue berhasil memanfaatkan celah di telinga.

Hal yang gue pikir itu cinta ternyata cuma nafsu belaka.

Nafsu yang memakai pakaian rapi, berdasi hingga nampak berwibawa dan tulus.

Beuh...

Ternyata ini ya yang namanya zina telinga...

Astaghfirullah...


Ukhti, afwan jiddan...

Saya sudah terperangkap.

Syukron, sudah memberitahu kesalahan saya.


Coba cermati dan pahami potongan lirik berikut...

“Berikan aku ciuman pertamamu...”

ato yang ini

“Malam pertama kan ku serahkan...”

Kalian pasti tau sapa yang nyanyi kan...

Nah, meskipun cuma sebuah lirik lagu, menurut kalian apa hal itu bisa menumbulkan ato menumbuhkan syahwat?

Hayo...


Ehem...

Lanjut, Gan...

Gue ada cerita lagi nih..

Ada sepasang kekasih yang sedang 'menyelam' di lumpur pacaran.

“Sayang, kamu kemana aja sih? 3 hari ini kok ga telpon aku?” tanya tersangka 1 pada pasangannya, tersangka 2.

“Maaf, aku lagi ujian, jadi musti fokus ama study.” jawab tersangka 2.

“Ihh... kangen tau ama suara kamu. Rasanya kurang semangat nih kalo ga dengar suara kamu.” rayuan gombal mode on.

“Hhihihihih... makasih sayang, seneng deh dikangenin gitu” kemakan rayuan maha gombal...


Ok, pembahasan langsung...

Jijik juga gue ama cerita itu...

Hanya dengan kata kata saja kita bisa terjerumus ke jurang suram nan tak berujung.


Tell me the truth...

Bagi elo yang pacaran, misal lagi telepon ama pasangan, pas ngedengerin dia lagi cerita, apa yang elo pikirin?

Apa elo berpikir kalo pasangan elo sedang ada di sebelah elo dan menceritakan hal tersebut? -->iye, gue mikir gitu dulu..

Nah kalo udah mikir gitu, kelanjutannya elo mau ngapain kalo pasangan udah ada di sebelah elo?

Pegang tangannya kah??

Elus elus kepalanya kah??

Ato elo bakal ajak dia makan di warung prasmanan simpati sebelah alfa mart itu??


Kalo elo mikir gitu, berarti setan udah menang atas diri elo saat itu.


Yo, ngaji lagi guys..

“... Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang ada penyakit di dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma'ruf.” [surat Al Ahzab ayat 32]


Yang dimaksud tunduk dari aya diatas tuh berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka.


Sedangkan maksud dari kata penyakit tuh bisa ngebuat berbuat serong dengan wanita, seperti melakukan zina gitu.


Wuih.... bahaya banget kan zina lisan tuh...

Semoga setan ga bisa berkuasa atas diri kita ya, guys...


Masih mau lanjut bacanya?

Gue ragu nih, udah sepanjang ini tulisannya tapi belum juga kelar...

Emang kalo bahas zina tuh banyak banget ya...

Ok deh...

Demi pembelajaran buat kita semua mari lanjutkan ke zina berikutnya...


Dalam suatu percakapan...

“Kalo kata gue sih ya, gapapa sih jabat tangan itu. Kan buat ngehormantin orang.” seorang kawna gue berpendapat gitu.

“Lagian, yang penting kan ga kebawa nafsu tuh. Jadi tinggal pribadi masing masing gimana nanggapinnya. Kalo dasar pikirannya ngeres mah dari jabat tangan bisa timbul benih benih virus 'merah muda'.” lanjutnya lagi.


Bro and Sist...

Apa iya sih jabat tangan itu ga menimbulkan sesuatu getaran getaran?

Gue rasa, walo cuma jabat tangan, 'greget'-nya nyampe juga ke hati dalam waktu yang relatif lama.

Misal ya, elo termasuk cewek penggila cinta pitri, lantas suatu saat elo ketemu ama Teuku Ryan, dan elo jabat tangan ama dia, apa elo bakal lupa momen momen ketika menggenggam tangan dia?

Apa elo lupa saat saat dia tersenyum manis dan elo senyum kambing setelah elo mulai jabat tangan dia?

Apa besoknya elo masih keingat sensasi berdebar dan berbunga bunga saat itu?

Hwehehehehe....

gimana tuh?

Contoh berikutnya, kalo elo cowok yang sayang mantan pacar [ups...], apa jadinya misal suatu saat elo lagi makan di kantin MIPA lantas tiba tiba ada cewek yang ga dapat tempat duduk dan akhirnya duduk di sebelah elo, saat elo noleh ke dia, ternyata mukanya mirip ama mantan pacar elo, seketika itu pula elo ngajak dia salaman dan kenalan, adakah rasa berdebar saat kulit halusnya [arrgghhhhh....] nempel ama kulit elo yang kasar??


Gimana guys kalo elo ada pada posisi yang gue ceritain di atas?

[jangan tanya kenapa gue milih ngebahas kantin MIPA, pokoknya jangan tanya]

Ga bakal elo bisa lupa ama rasa itu dalam jangka waktu 3 hari kedepan...

Tul ga tuh???


betul betul betul.... → upin & ipin mode on..


Tiba tiba terdengar ucapan [sebenarnya teriakan lebih cocok untuk mendeskripsikannya] seorang kawan tentang penjelasan gue itu.

“Kan tadi gue udah bilang, kalo emang dasar orangnya ngeres sih apa aja bisa jadi 'nepsong', boss... Kalo gue mah sentuhan kecil gitu ga nimbulin getaran getaran gitu lah? Ato jangan jangan itu pengalaman pribadi elo ya? Wah ketauan kalo nepsong lo gede juga nih...”


Asem tenan, ini orang malah nusuk gue pula...

Disini kita belajar boss, bukan nge-judge orang.

Nape gue jadi sasaran tembak dia ya?


Ok, mari kita kembali ke jalan yang benar.

Guys, di dalam diri seorang ikhwan sekalipun, terdapat setan penggoda napsu juga.

Malahan, setan yang ada di diri gue jauh lebih lemah dari pada setan yang ada di dalam dirinya seorang ikhwan maupun akhwat.

Tapi kenapa mereka bisa terjaga sedangkan gue belum bisa menjaga?

Karena pengendalian diri mereka yang super duper hebat, mereka sudah bisa menerapkan apa yang telah dipelajari, sedangkan gue sedang mempelajari apa yang gue tau.

Gitu bedanya.


Mengenai pendapat kawan gue itu [sialan lo, bikin malu gue aja] ada beberapa penjelasan dari seorang ikhwan bernama Akhi Salim A. Fillah.

Siapakah dia?

Kita tanya galileo...

Eh, enggak ding, dia itu penulis buku buku keren penggugah iman.

Dasyat banget deh...

Kalo mau tau lebih lanjut, elo bisa tanya ke 'Paman Google'..


Kata kawan gue, kalo sentuhan kecil gitu aja ga bakal menjadi syahwat ato kata dia tadi ga bakal nimbulin nepsong.

Nah, menurut Akhi Salim, kalo ada pendapat semacam itu, pasti si penjawab sudah sering melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar sentuhan, sehingga kulitnyaga peka lagi.

Buihhhh.....

Dasyatnya akhi ini...

Pasti akhi ini telah menerapkan haddist berikut;

“Sungguh, jika kepala seseorang dari kalian dicerca dengan jarum besi menyala, adalah masih lebih baik daripada menyentuh perempuan yang tiada halal bagimu” [haddist riwayat Ath Thabrani dan Al Baihaqi]


Suatu saat, gue sedang backpacking di suatu daerah.

Daerah yang memiliki sistim kebudayaan berbeda dengan kaum kita.

Gue saat itu berada di kota AD [bukan kota Solo maksud gue].

Di situ terdapat banyak obyek wisata, mulai dari museum, kedai kedai makanan khas, taman taman hingga tempat perdagangan “manusia”.

Gue mau cerita tentang perdagangan manusia tersebut.

Gue mulai jalan jalan di Centro sekitar jam 2pm, masih siang kala itu.

Cuaca cukup cerah, gue ngitarin pusat kota itu, tengok kanan tengok kiri, jepret kanan jepret kiri sampe gue iseng jepret orang yang lagi ngamen jadi robot dipinggir jalan. -->gue serius

Overall kota ini indah banget, mangtabs...

Capek keliling gue nangkring [hinggap] di sebuah cafe.

Cafe itu menghadap ke sebuah gang, gang yang penuh dengan etalase.

Pertama gue pikir itu pusat perbelanjaan di kota AD.

Bentuknya serupa CiWalk Bandung gitu.

Habis makan croissant ama teh [croissant paling enak dan mengeyangkan yang pernah gue makan] dengan ra penasaran yang teramat sangat, gue jambangi [jabanin maksud gue] tuh gang.

Baru beberapa meter masuk gang, gue udah kaget.

Terkejut, terbelalak dan segera ber-istighfar...

Pusat perbelanjaan macam apa ini??

Gue udah berniat balik arah dan segera meniggalkan tempat itu.

3 ato 4 langkah berbalik, gue mengurungkan niat gue untuk pergi.

Gue berpikir, toh cuman jalan jalan doang, itung itung nambah pengalaman.

Dan gue mulai menjelajahi gang tersebut.

Etalase di kiri kanan semakin mengundang.

Sungguh ladang setan di sini...

Dan gue sadar, saat itu kaki gue telah berzina.

Astaghfirullah....


Pasti kalian bingung, tempat macam apa yang udah gue datangi.

Tempat terkutuk di dunia ini.

Namanya red light district.

Gue nyesal udah datang kesana.

Rasa penasaran, pengetahuan ga sebanding ama dosa yang gue terima.

Mana gue poto pula tempat itu.

Astaghfirullah...


fyi, di sebelah RLD terdapat universitas AD yang terkenal itu.

Ga kebayang gimana pergaulan mahasiswanya....


Adegan sinetron mode on...


“Besok, kalo kita udah nikah, aku mau punya anak 3, biar rumah ga sepi dan ga terlalu ramai.”

“Tapi sayang, banyak anak kan banyak rejeki.”

“Lha emang kamu mau punya anak berapa?”

“Hmmm... 7 gimana sayang.”

“Ha? 7? Lu pikir gue kucing ape? Ga kasian gue ngelahirin orok segitu banyak? Muke gile lu!!”

“Ih, sayang kok ngomongnya kasar gitu sih?”

“Ya elo juga sih yang mulai, ngapain minta anak segitu banyak? Elo mah enak, tinggal nyetrum doang, lah gue musti hamil, 7x9 bulan, belum lagi ngelahirinnya. Bukannya gue ga mau susah jadi ibu, tapi nyawa gue taruhannya.”

“Ya, aku kan juga nyari duit buat kamu sayang, buat anak kita juga.”

“Ah, pokoknya gue mah ogah kawin ama elo kalo gini ceritanya.”

Jeng jeng jeng jeng....

Tiba tiba iklan....


Hwakakakakakakak....

Script sinetron banget tuh...

Pernah kah elo berangan angan suatu saat kalian udah menikah ama pacar elo sekarang??

Zina lagi zina lagiiii...........

Zina juga tuh...

Zina pikiran...

Baru pacaran aja pikirannya udah macam macam gitu...

Emang pacaran itu ladang zina...

Mikirnya udah ke mana mana, belum nikah kok udah mikir punya anak, gue curiga kalo selain mikir punya anak dia pasti pernah mikir tentang prosesnya, yah,, walopun ga diomongin berda...


Hayo lo....

Pernah gitu juga ga???

Istighfar, guys....


PEGAAAAAALLLLLLLLLLLLLLL......................

Capek gue ngetik, mantengin layar dang ngehabisin bercangkir cangkir kopi.

Tulisannya panjang banget....

hora popo....

jenenge zina ki dowo pembahasane..

[gue ngomong jawa cuman melalui tulisan doang, kalo musti ngomong langsung, parah abis deh logatnya]


I tell you the truth..

Pemilihan tema kali ini gue rasa berat banget.

Gue sadar kalo gue masih jauh dari pantas untuk menyampaikan materi gini, secara gue juga masih berusaha menjauh dari belenggu zina ini.

Belajar setahap demi setahap supaya gue pantas masuk ke surganya Alloh...


Ga sedikit hujatan dan cebiran sewaktu gue nulis ini.

Beberapa kawan gue berpendapat kalo tulisan ini terlalu dalam.

Tapi pikir gue, gebrakan dan perubahan itu perlu.

Apa lo mau terus terusan seperti zanam jahiliah??

Kalo gue mah ogah...

Gue musti berubah, hijrah menjadi hal yang lebih baik.

Menjadi Rossy version 2.0.


Anggapan sok suci juga meluncur dari mulut kawan kawan gue.

Mending sok suci dari pada sok kafir...


Kata gue, berpura pura itu boleh.

Mulanya gue pura pura jadi baik, lama kelamaan gue terbiasa menjadi baik.

Akhirnya gue mendalami ilmu supaya menjadi baik dan akhirnya gue jadi baik luar dalem..

Manteb kan tuh...


Well...

Gue belum mahir bikin penutup tulisannya.

Oh iya... gue lupa nyampein sesuatu...


“ Engkau berkata pada pencuri : 'Silahkan masuk...! '. Setelah kecurian, barulah engkau sadar, kemudian engkau berteria : 'Tolong..., tolong..., aku kecurian!'. “


Ingat kata kata itu di awal tadi?

Jangan sampai elo kehilangan sesuatu sebelum elo resmi dan sah serta halal terhadap seseorang.

Jangan sampai elo menyesal.

Elo bakal ngerasa sesuatu begitu berarti ketika elo kehilangannya.


Apa elo nyiapin hape ama tisu di sebelah elo?

Sekarang saatnya menggunakannya.

Telpon pacar elo sekarang dan ceritakan kalo elo habis baca tulisan ini.

Utarakan apa yang elo rasain dan pikirin sekarang.

Mungkin elo bakal nangis saat cerita, itulah gunanya tisu.


Sekarang saatnya ambil keputusan. -->kondisi masih telpon

Mau terus terbelenggu ato mau menuju jalan yang terang dan penuh petunjuk...


You name it, guys...

Tasted on boys and girls...


After all...

Gue mau minta maaf atas kesalahan yang gue buat di tulisan ini.

Maaf kalo udah nyakitin perasaan elo.

Kesalahan yang ada di tulisan ini murni karena gue.

Sedangkan kebenara datangnya hanya dari Alloh...


Thanx banget udah mau baca tulisan gue yang puanjang ini.

Gue ga heran kalo elo mual bacanya, gue yang nulis aja ampe muales nyelesaiinnya, puanjang banget cuy....


Ok, guyss...

Pamit dulu yee....

Bye, Chuiikkkk...................


NB: elo pasti ga mau kan kalo pasangan elo kelak udah kecurian??

kalo elo ga mau, maka jangan nyuri punya orang juga.


“Wanita yang kotor adalah untuk lelaki yang kotor dan lelaki yang kotor untuk wanita yang kotor. Dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki laki yang baik untuk wanita yang baik...” [Al Quran surat An Nur ayat 26]


Older Posts