Polisi Orang Tua dan Malin Kundang Abad Milenium

Hal apa yang pertama kali muncul di benak elo semua ketika dengar kata "Polisi"?

Hal apa yang pertama kali muncul di benak elo semua ketika dengar kata "Spiderman" atau "Power Rangers"?

Well..

Gue yakin antara kondisi pertama dan kondisi kedua memiliki jawaban yang saling kontradiksi.

Iya, gue juga mikir gitu kok.

Yang muncul di benak gue ketika dengar kata Polisi adalah "gue bakal kena masalah".

Sedangkan hal yang muncul ketika dengar kata Spiderman maupun Power Rangers adalah "syukurlah bumi punya superhero profesional yang membela rakyat".

Ketika ada kecelakaan di jalan raya, dan di situ ada polisi, apa yang elo pikirkan?

Kalo gue mikir "wah, urusan makin panjang nih".

Berbeda ketika gue ketemu Spiderman, "Untung ada Spiderman, jadi korban bisa segera diantar ke rumah sakit".

Ketika gue kecurian laptop beberapa tahun lalu di Bandung, gue berpikir untuk lapor ke polisi tentang kejadian ini.

Ketika gue diskusikan dengan pak RT, katanya malah bakal keluar duit banyak kalo urusan polisi.

What???

Lantas lagi, ketika kena penipuan transaksi online, gue niat laporin ke polisi, eh ternyata kata orang orang "itu mah buang buang duit aja".

#dafuq is this??

Kenapa gue banyak dengar cerita dan citra buruk dari suatu instansi yang seharusnya mengayomi dan melindungi kita..

Di saat seperti ini lah gue berharap Spiderman dan Power Rangers benar benar ada..

Ok..

Itu bagian pertama dari tulisan ini, lanjut ke bagian selanjutnya, tentang "Orang Tua".

Orang Tua atau "Ortu", bapak ibu kita, papa mama kita, ayah bunda kita, orang yang membesarkan dan mendidik kita, orang yang melindungi kita, orang yang menjaga kita, tempat kita berkeluh kesah, tempat kita minta uang jajan, orang yang harus kita ceritakan di depan kelas saat SD dulu, serta seseorang yang akan menangis haru ketika kita wisuda.

Ya, itu orang tua.

Gue nulis tentang orang tua, ada apa dengan orang tua gue?

Ya ga ada apa apa, mereka baik baik saja..

Cuman, gue sedang merasa "aneh" dengan hal hal yang gue alami..

Suatu ketika, gue mau liburan ke Batang.

FYI, batang itu daerah Jawa Tengah, gue perjalanan dari Semarang pake baju dan naik motor.

-kebanyakan orang nulis "gue perjalanan dari Kota X pake motor/mobil", gue pikir, elu autobots ya?? Pasti elu temennya Optimus Prime..-

Dan Semarang - Batang bukan jarak yang dekat, jendral..

Jauh jauh hari gue udah bilang sama ortu tentang rencana itu, gue udah rencana mau pake motor baru mama, secara motor tempur kesayangan gue lagi bermasalah.

Pas hari H, ada kejadian aneh..

Gue ga diijinkan pake motor mama dengan alasan "motorya masih baru".

What kind of argument was that??

Gue diskusikan dan jelaskan kondisi motor gue yang ga sehat, tapi gue gagal..

Akhirnya berjuang lah gue sama belalang tempur itu.

Sepanjang jalan gue udah ngerasa was was sama ini motor.

Dan benar aja, gue kena insiden..

Kampas rem belakang gue kebakar..

Ya, elu ga salah baca dan gue ga salah ketik, KEBAKAR..

Mateng dah kalo gini ceritanya..

Kena musibah di luar kota itu rasanya sesuatu banget.

Ketika gue lapor ke ortu tentang masalah itu, bukan solusi yang pertama gue dapat, justru omelan..

Nah lo, kenapa gue yang disalahin gini??

Gue debat lah (bukan diskusi lagi), secara ga mau disalahin gitu aja, kan gue udah kasih alasan yang valid sebelumnya..

Well, walau apapun alasan gue, pemenangnya tetap ortu, dan gue sebagai korban sekaligus terdakwa.

Itu kisah gue beberapa bulan lalu..

Tapi yang paling hot, adalah kisah gue saat tulisan ini dibuat..

Jam 1 pagi, selasa, menuju semi final liga champion.

Gue sakit..

Gue sakit karena ngisep banyak asap, debu dan polusi..

Gue batuk, dan mana pula gue ngerokok..

Ya, akhirnya gue deklarasikan gue perokok.

Jam 12, gue ngerasa lemes banget, akhirnya gue turun ke lante 1, gue mau tidur di ruang komputer aja.

Ruangan yang bebas polusi, ketimbang kamar gue yang pengap..

Pengap di sini bukan karena asap rokok, gue udah berhenti ngerokok di kamar beberapa hari lalu.

Dan gue sudah mengurangi rokok.

Next, sampe di lante 1, gue bilang ke mama kalo gue sakit.

Coba tebak, apa respon dari mama?

Ha??

Ya..

Tepat sekali..

Gue kena marah..

Yah, wajar sih gue kena marah, secara sakit ini kan akibat kesalahan gue sendiri.

Tapi kan..

Tetep aja, sebrandal brandalnya anak, kalo sakit itu pengen diperhatikan orang tua..

Coba deh, preman mana yang kalo sakit ga pengen dirawat sama ibunya?

Ga ada bos..

Preman aja gitu, apa lagi gue yang itungannya seorang yang cukup terpelajar, serta seorang tukang poto. (Iye, ga nyambung emang)

Gue mah pengen diperhatiin, dikasih solusi kek gitu, apa lagi gue lagi bengek bengeknya..

Alhasil, daripada dengerin omelan yang bikin kepala makin pusing, gue milih tidur aja.

Mama gue lantas cerita ke papa, mungkin dikira gue udah tidur ya, beliau berdua pun mengatakan sesuatu yang gue sebagai anak merasa tertohok dan berpikir "jadi selama ini gue berandal ya? padahal kan gue berusaha hidup mandiri, gue bukan acuh, tapi memang mereka juga ga bakal paham apa yang gue rasakan".

Es-Ha-I-Te...

Gue nyesel turun ke lante 1.

Mendingan gue tidur di kamar gue yang pengap tapi hati gue tenang ketimbang gue berada di tempat yang nyaman tapi pikiran gue penuh beban..

Ok, dari kedua kisah di atas, mari kita buat suatu pembelajaran..

Gue tujukan tulisan ini buat anak, orang tua serta instansi penegak hukum.

Gue ga ada maksud menjelekjelekkan pihak tertentu, dan gue pun ga berminat jadi "Malin Kundang abad Milenium".

Sebagai manusia, sebagai makhluk sosial, kita ga bisa hidup sendiri.

Kita hidup saling membutuhkan satu sama lain.

Dengan adanya seseorang selain kita di hidup ini, kita akan merasa nyaman, aman serta tenang.

Kita tinjau di lingkungan umum..

Kita emang ga bisa dapat lingkungan yang 100% aman bebas pencopetan, pemerkosaan maupun pemadaman listrik bergilir..

Hehehehe.. Bercanda bos..

Tapi walo itu semua terjadi, asal kita memiliki seseorang yang bisa jadi pelindung, hidup kita akan cukup tenang..

Karena kita percaya ada seseorang yang akan melindungi kita.

Iya ga sih?

Nah, kita analogikan di rumah, seorang anak itu belum pernah jadi dewasa sebelum oraang tuanya dewasa terlebih dahulu..

Logis ga?

Jadi orang tua lebih dulu merasakan "dewasa" sebelum anak..

Dan di situlah peran penting orang tua dalam mendidik dan mengarahkan anak..

Mereka seyogyanya memberikan lingkup keluarga yang aman nyaman serta kondusif untuk mengajarkan atau menanamkan budipekerti.

Mengintimidasi seorang anak, walau apapun alasannya itu sebuah kesalahan fatal kalo menurut gue, karena itu akan mematikan karakter anak.

Contohnya gue, setelah dengar pembicaraan ortu, gue ngerasa useless dan hanya sebagai beban doang..

Jujur gue desperate banget tadi, tapi gue berpikir, "ok, gue merasakan hal ini, sudah cukup gue aja, jangan anak anak lain, jadi orang tua harus diberitahu", makanya lahirlah tulisan ini

Dari sisi seorang anak..

Woy!!

Elu tu ya, udah dikasih duit, dikasih kebebasan memilih jalan, dikasih kesempatan mengembangkan bakat dan minat, tapi nape ga elu gubris nasehat orang tua??

Gue kasih tau ya, ga ada orang tua yang tega melihat anaknya menderita dan ga ada orang tua yang mau menjurumuskan anaknya.

Elu mah ngadunya ke bokap nyokap kalo lagi kepepet doang, eh tau ga sih lo, kalo orang tua itu pingin denger perkembangan apa saja yang diperoleh anaknya..

Yah, kesannya kayak balita aja sih, tapi percaya deh, suatu ketika elu bakal sadar kalo orang tua itu berharap elu cerita, sharing ke mereka..

Quality time for Family chit chat..

Udah ah nulisnya, kapalan jempol gue bikin postingan ini di BB..

See ya, guys...

-oCHy d'vibrator-

Special thanks to my Daddy, DR. Drs. Sugiharto Ms, my Mommy Nunuk Indah Winarni ( I dunno how to mention your titles, mom, to much I think) and last but not the least, my beloved Siti Kholifah as known as "Bunda".

Low Light Photoshot

3 tukang poto, 3 kamera pro, beberapa lensa tajam bukaan gede.
Di atas kertas pemotretannya berjalan lancar..
Dengan gear yang begitu, sungguh mudah menghasilkan image bagus.

Tapi, ada pepatah mengatakan "man behind the gun".
Atau pada kondisi kali ini pepatahnya gue ubah jadi "eye behind viewfinder".

Dengan 3 tukang poto bermata 4, pemotretan dengan kondisi low light seperti ini adalah petaka..
Mata kami kurang kompeten dalam menangkap fokus dan cahaya..

#dafuq
#derita
#tukangpoto
#mataminus

-pemotretan Festival seni ReiLongSai Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga-
Powered by BlackBerry®

The Art of Finger and Eye

Camera and all of these shits are just a tool..
It doesn't matter how expensive your shits are, how big your camera, or anything else.
But yes, the more expensive tools be able to produce better image than the cheaper one..
That's because, the expensive one has more ability to do something.
And how could it be, The Master of Photographer, anyone who knows about taking picture or capture a moment says that "tool is just a tool, the most important thing is man behind the gun"??
How can it be?
Simple answer, if someone who grabs that shit doesn't know how to use or utilize the weapon, it just piece of shit, no more.
But if someone has ability of it and holding a cheapo tools, it can be the secret weapon to draw the shine..
So the point is, above all, the man behind gun's ability is the most important thing that supported by piece of glasses or the other equipment..
The art of finger and eye..
Ochy_photography

Alay, Kreatif atau Kurang Kerjaan?



A: Kmoe dah mamz lum?
B: eaa uDah nie. Np?
A: kug cmez que gug di lezz?
B: ######### (some text missing)
Note: gue ga bisa nulis lanjutannya, susah..
Beuh, guys..
Kalian pernah dapat sms yang macam itu?
Entah itu yang pake "an6k4" atau yang hurufnya "gEde KeCiL" atau bahkan "K0mB1n45i ke2nY4".
Pernah? Pernah ga?
Eh tunggu, atau jangan jangan kalian juga nulis (lebih tepatnya ngetik) macam begituan??
(Bersyukurlah bagi kalian yang ga pernah dapat sms model begitu maupun ga ngetik macam itu, semoga kalian selalu terhindar dari hal hal tersebut)
Gue ga habis pikir deh, siapa sih pencetus trend nulis begituan? Siapa sih pemrakarsa sms, twit, plurk, status atau PM bahkan BBM broadcast macam itu?
Biasanya ya, makhluk kisaran 12 sampai 22 tahun banyak yang menulis kayak gitu, tapi ada juga makhluk makhluk diatas 30 yang masih menggandrungi tipe penulisan ga jelas tersebut, yah walaupun cuma kaum minor sih..
Entah kalian sebut apa tulisan itu, tulisan alay lah, tulisan ababil lah, tulisan makhluk kurang kerjaan lah, atau bahkan tulisan makhluk kreatif?
Gue pribadi, jijik bin eneg liat tulisan itu. Gue ga nyaman bacanya karena musti menggukanak kemampuan maksimal mata ini. Udah mata gue minus rada parah, ditambah suruh baca begituan, beuh, paket combo perusak mata yang ada.. Ibaratnya ya, mata gue musti memfokus ulang tiap karakter yang ada di tulisan itu. Gue rasa, Nikon D3s sekalipun bajal susah mengunci fokus tulisan model alay.
Beberapa saat lalu gue pernah tanya dengan seorang kawan "twenty something" tentang tulisan itu. FYI, dia termasuk kaum pecinta tulisan alay..
Kata si kawan saya yang meminta untuk tidak disebarkan identitasnya, dia nulis (atau ngetik) macam itu karena lebih nyaman dengan tulisan itu ketimbang tulisan yang konvensional, kesannya monoton. Bagi dia, yang selanjutnya disebut Bona, nulis kayak gitu merupakan bukti kalau seseorang memiliki kecerdasan yang baik dan multitasking karena bisa memecah fokus otak dalam minimal 2 hal, yaitu memikirkan isi pesan tersebut dan yang kedua, berpikir untuk menuliskan serta menggabungkan bermacam macam karakter supaya serasi. Dasyat.. Gue ga nyangka kalo dibalik kea-alay-an tulisan ini, tersembunyi suatu penjelasan yang mampu mengundang decak kagum.. ZupPerrr ZeK4Li..
Guys, di dunia ini ada hitam dan putih, ada yin dan yang, ada mie goreng dan mie rebus, ada pula yang mencerminkan kekreatifitasan penuli dan yang mencerminkan ke-alay-an stadium 4 skala ritcher penulisnya..
Beberapa jam yang lalu, gue ngobrol sama kawan via sms, dan tanya tanya kenapa dia nulis dengan kombinasi kode yang lebih rumit dari bahasa pemrograman komputer ini.
Dia, kita sebut saja Rongrong, mengikuti trend dikalangannya, itulah mengapa Rongrong menulis sms yang 60% gue ga ngerti artinya apa. "Lo gUg gi2 maH guG GaoL namax" begitu tulisnya. Well, gue ga mau panjang lebar kali tinggi (jadinya rumus volume) bahas opini dari Rongrong. Kayaknya habis baca sms dia, minus gue nambah deh..
Gitu lah analisa dan observasi yang gue lakukan dalam meneliti maraknya tulisan dengan "UNKNOWN CHARACTER" dikalangan makhluk makhluk pribumi.
Kali ini gue fokus ke masalah karakternya saja, belum ke masalah singkatan singkatan yang mereka gunakan. Sepertinya akan menarik ini..
Anyway, segini dulu postingan gue. Ngetik sebanyak ini di BB bikin jempol kiri kanan gue tepos mencetin keypad.
Sebelum gue pamit, ada satu pertanyaan bagi penganut sistem kepenulisan "MULTI CHARACTER..
MAKHLUK MACAM APAKAH ANDA??
A. Makhluk kreatif.
B. Makhluk kurang kerjaan.
Sayonara...
p05t1n64n niE di7kan waT BL066eRz y6 K4n6En mA gW..


contoh alay dengan tulisan khasnya..

Powered by BlackBerry®

Newer Posts Older Posts